Segenggam amanah

June 7, 2011

Dari tempatku berdiri terdengar suara nasyid mengalun merdu dari pengeras suara yang tersambung dengan sebuah tape recorder. Tamu-tamu mulai berdatangan dengan wajah-wajah muda fresh graduate yang sangat mendominasi. Kursi-kursi berjajar rapi dengan sebagian sudah penuh terisi. Di depan tampak hidangan yang sudah tertata rapi dan siap untuk disantap. Sungguh sebuah perhelatan yang lumayan buat orang seukuran diriku.

Kulangkahkan kakiku menuju ke tempat acara. Terdengar canda tawa bahagia dari tamu lain mengiringi setiap langkahku. Akupun terus berjalan sendiri menyusuri ruang kosong yang tercipta di antara himpitan kursi yang sudah tertata rapi. Kurasakan seolah semua mata menatap tajam padaku. Melihatku berjalan sendiri tanpa ada kawan yang menami karena mereka sedang sibuk dengan urusan pribadi masing-masing.

Kuluruskan pandanganku ke depan sambil terus berjalan menuju rumah yang punya hajat. Sembari jalan akupun mencari sosok yang mengundangku untuk datang ke acara ini. Acara syukuran karena kelulusannya. Semakin dekat dengan rumah yang punya hajat, semakin jelas pula pandanganku pada sesosok gadis yang begitu anggun dengan jilbab biru menghias di kepalanya. Kucoba memperhatikannya untuk memastikan bahwa benar kalau itu memang dia. Ternyata dugaankupun tidak meleset, dialah gadis yang mengundangku ke sini, sekaligus gadis yang bisa menggetarkan hatiku yang sudah lama mati. Baca selengkapnya…

Advertisements

Setetes embun diteriknya mentari

May 22, 2011

Waktu isitrahat telah tiba. Kurebahkan tubuhku sejenak, agar lelah yang mendera bisa sedikit sirna. Setelah beberapa menit kunikmati aliran darah yang mulai normal kembali, segera kukemasi barang-barangku untuk bergegas pergi. Pergi meninggalkan kantor untuk selanjutnya menuju rumah dan menunaikan sholat jumat di masjid dekat rumah.

Kukendarai motorku menyusuri jalanankota. Terik mentari tak terelakkan lagi. Panasnya serasa membakar sekujur tubuh. Kumpulan awan tebal yang bergumpal di angkasa, tak mampu menahan tajamnya sinar sang mentari. Sinarnya terang menyanyat kulit bumi. Aspal jalananpun tak mampu meredamnya. Dengan cepat dia biaskan sinar mentari, hingga membentuk sebuah fatamorgana yang menyilaukan mata.

Angin berhembus pelan, mencoba mengusir panas yang ada. Kuatnya sinar mentari, membuat sang angin tak mampu mengusirnya. Desiran angin panas masih menyertaiku menyusuri jalanankota. Lampu merah di perempatan pos polisi eltari menyala terang. Menyuruhku berhenti sejenak untuk menikmati lalu lalang kendaraan. Terik mentaripun semakin liar menggigit kulit ariku. Seringkali kusembunyikan tanganku untuk menghindari teriknya. Baca selengkapnya…


Aku malu padamu, Nurmi

May 18, 2011

Di kamar yang tidak begitu luas, dan berdindingkan batu bata yang belum di plester, tertidur lemas seorang perempuan setengah baya di atas balai bambu. Badannya terlihat kurus dibalut dengan kain sarung yang lusuh. Sesekali suara batuk berat keluar dari mulutnya yang sedikit membiru. Sudah hampir tiga tahun perempuan itu tidak berdaya di kamar tidur. Kakinya lumpuh karena terjatuh ketika menjadi buruh pengangkut tebu.

Kepedihan pun tak hanya sampai di situ. Suami yang menikahinya sepuluh tahun yang lalu, memelih pergi meninggalkannya. Meninggalkan dirinya yang sedang merintih kesakitan. Meninggalkan anak perempuan mereka satu-satunya. Anak perempuan yang tebilang cantik di kampung tempat mereka tinggal. Kampung yang masih jauh dari hiruk pikuk keramaian kota.

Wajah yang cantik, kulit sawo matang dengan hidung mancung serta wajah yang oval, menambah keanggunan dalam dirinya. Keceriaanpun selalu melekat di wajahnya, tak sedikitpun tergurat rasa sedih. Tampak ketegaran yang maha besar bersarang dalam dirinya. Tingkahnya terlihat lebih dewasa dari usianya. Tutur katanya juga terlihat lebih tertata dibanding anak-anak sebayanya. Gadis kecil itu begitu anggun dengan setelan baju dan rok selutut warna merah bergambar bunga yang melekat di tubuhnya. Baca selengkapnya…