Segenggam amanah

Dari tempatku berdiri terdengar suara nasyid mengalun merdu dari pengeras suara yang tersambung dengan sebuah tape recorder. Tamu-tamu mulai berdatangan dengan wajah-wajah muda fresh graduate yang sangat mendominasi. Kursi-kursi berjajar rapi dengan sebagian sudah penuh terisi. Di depan tampak hidangan yang sudah tertata rapi dan siap untuk disantap. Sungguh sebuah perhelatan yang lumayan buat orang seukuran diriku.

Kulangkahkan kakiku menuju ke tempat acara. Terdengar canda tawa bahagia dari tamu lain mengiringi setiap langkahku. Akupun terus berjalan sendiri menyusuri ruang kosong yang tercipta di antara himpitan kursi yang sudah tertata rapi. Kurasakan seolah semua mata menatap tajam padaku. Melihatku berjalan sendiri tanpa ada kawan yang menami karena mereka sedang sibuk dengan urusan pribadi masing-masing.

Kuluruskan pandanganku ke depan sambil terus berjalan menuju rumah yang punya hajat. Sembari jalan akupun mencari sosok yang mengundangku untuk datang ke acara ini. Acara syukuran karena kelulusannya. Semakin dekat dengan rumah yang punya hajat, semakin jelas pula pandanganku pada sesosok gadis yang begitu anggun dengan jilbab biru menghias di kepalanya. Kucoba memperhatikannya untuk memastikan bahwa benar kalau itu memang dia. Ternyata dugaankupun tidak meleset, dialah gadis yang mengundangku ke sini, sekaligus gadis yang bisa menggetarkan hatiku yang sudah lama mati.Kuberanikan diri untuk lebih dekat lagi, mencoba mencari sedikit perhatian agar dia sadar akan kedatanganku. Usahaku tak sia-sia, diapun menyadari akan kedatanganku. Dengan seutas senyum dia coba menyambutku. Mendapat senyuman itu, hatikupun bergetar hebat, hingga aku kewalahan dibuatnya. Kucoba meredam rasa ini dengan memalingkan pandanganku sejenak. Merasa sudah sedikit nyaman, aku kembalikan pandanganku, namun getaran itu kembali datang lebih hebat karena dia ternyata sudah ada di hadapanku.

“Assalamu’alaikum” sapanya ramah

“Wa…wa..wa’alaikumsalam” jawabku tergagap

“Kenapa kak! kok sepertinya kaget lihat aku?”

“Nggak apa-apa, cuma sedikit kaget aja, melihat kamu tiba-tiba ada di depanku”

“Loh kok sendirian? katanya mau bawa pasukan?”

“Rencananya sih begitu, tapi mereka ternyata ada acara sendiri, jadi ya kakak datang sendirian”

“Ya udah kalau gitu, kakak duduk di kursi depan aja ya!” pintanya sambil menemaniku menuju kursi paling depan.

“Kak! aku mau menyapa teman-teman yang lain dulu ya?” pamitnya padaku sembari mulai berjalan  meninggalkanku.

“Tunggu bentar! ini ada sedikit hadiah dari kakak atas kelulusanmu” dengan sebuah senyum aku ulurkan tanganku untuk menyerahkan kado kecil itu padanya.

Diapun berhenti sejenak, dan mengambil kado itu. “Terimakasih ya Kak” jawabnya sembari melempar senyum padaku. Begitu kado sudah di tangan, Diapun melanjutkan langkahnya untuk menyapa teman-temannya yang lain.

Serangkaian acara, secara bergantain telah terlaksana. Kini tiba waktunya sang punya hajat Dian Fitri Nur’aini memberikan sambutannya dengan berbagi sedikit kisah suksesnya menyelesaikan kuliah. Dengan anggun dia berjalan mendekati tempat yang telah disediakan. Seperti biasa, sebuah senyum terukir manis di bibirnya yang tipis. Dibalut dengan gamis berwarna cerah dan jilbab biru, menambah keanggunan yang memang sudah melekat pada dirinya.

Selesai sambutan, acara dilanjutkan dengan ramah tamah yang diisi dengan makan siang bersama. Dianpun mempersilahkan para tamu untuk segera menyantap hidangan yang sudah tersedia. Dengan senyuman yang khas, tak henti-hentinya dia mempersilahkan tamu yang belum beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil hidangan yang ada, sepeti halnya diriku. Diriku yang masih asyik di tempat duduk sambil melihat keriuhan orang-orang yang sedang antri mengambil makanan. Bukan karena apa, namun karena malas ngantri yang lumayan panjang dan sambil berdiri. Jadi lebih baik aku ngantri di tempat duduk aja, hingga antrian sudah berangsur sepi, baru aku ikut ambil bagian.

Selang beberapa lama, antrianpun mulai sepi. Aku beranjak dari tempat dudukku menuju tempat makanan disajikan. Kuambil nasi secukupnya dan beberapa lauk yang tersedia. Begitu selesai, akupun berbalik arah untuk kembali ke tempat duduk semula. Belum sempat aku melangkahkan kaki ke tempat semula, tiba-tiba Dian menghentikan langkahku. Dia menarik lengan bajuku sembari berkata pelan “Ka’! makannya di dalam aja ya?” Dengan agak berat akupun melangkahkan kaki mengikuti langkahnya sembari membawa makanan yang tadi aku ambil.

Sampai di dalam, ternyata sudah ramai dengan kedua orang tua serta kerabatnya yang  juga sedang menikmati makanan dengan cara lesehan (duduk di atas tikar-red). Akupun diajak untuk begabung dengan mereka. Aku duduk bersama dengan kedua orang tuanya, kakak perempuannya serta adik laki-lakinya yang masih SMA. Kami berenam duduk melingkar membentuk sebuah lingkaran kecil. Tepat di sebelah kiri adalah ayahnya, serta Dian menamaniku tepat di samping kananku.

Makan bersamapun selesai, kini saatnya menikmati hidangan penutup. Di sela-sela menikmati hidangan penutup, Dian mengenalkanku kepada keluarganya.

“Pak! Ini Ka’ Anto, temanku dalam kegiatan di panti At-Tin.” kata Dian kepada Ayahnya. Akupun mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan mereka.

“Sudah lama kenal Dian?” tanya Ayahnya yang bernama Pak Ali itu.

“Lumayan Pak!” jawabku sambil menunduk

“Hmm. Kuliah atau kerja?” tanya pak Ali kembali

“Alhamdulillah sudah bisa mencari rejeki sendiri Pak!” jawabku masih dengan menundukkan kepala

“Kerja di mana?”

“Di KPPN Pak!”

“Sudah menikah?”

“Belum Pak! Belum dipercaya sama Allah”

“Semoga Allah mendekatkan jodohmu”

“Amiin”

“Orang tua tinggal di mana?”

“Ada di Jawa Pak”

“Oo… orang jawa tho?”

“Iya Pak! Kebetulan dapat tugas di sini”

“Jawanya mana?”

“Jawa Tengah Pak”

“Wah! tetanggaan sama Bapak. Bapak Jawa Timur”

“Jawa Timurnya mana Pak”

“Malang”

Di tengah keasyikan kami berbincang datang beberapa tamu yang mau pamit pulang. Mereka sekeluargapun segera berdiri untuk menyalami para tamu yang pamit pulang. Akupun turut berdiri dan berada diantara mereka untuk menyalami para tamu. Satu persatu tamu undangan mulai pamit pulang, tak terasa di luar sudah agak sepi. Aku yang masih punya tanggungan lembur di kantorpun meminta ijin untuk pulang. Kusalami dulu ayahnya, dengan penuh wibawa Pak Alipun merangkul pundakku dan berkata:

 “Jagalah orang yang kamu sayangi, seperti kamu bermain layang-layang. Jika kamu jaga dengan baik, maka ia akan terbang dengan indahnya. Tapi jika ia terlepas maka akan banyak yang mengejarnya dan kamu akan sulit untuk mendapatkannya kembali.”

Mendengar kata-kata itu akupun kaget, kucoba mengambil makna  dari perkataanya itu. Jelas secara tersirat beliau menyetujui kalau aku dekat dengan Dian, namun secara implisit, Pak Ali juga menaruh amanah di pundakku. Kini perasaanku bercampur antara sedang dan juga was-was. Senang karena aku mendapat ridho dari ayahnya, was-was karena takut aku tak bisa menjaga amanah yang telah diberikan kepadaku.

Matahari siang mulai condong ke barat. Suara nasyid masih merdu terdengar. Angin siang berhembus menghantarkan sedikit kesejukan. Dengan langkah yang agak berat karena amanah yang kuterima, akupun beranjak pergi. Dengan senyum penuh wibawa Pak Ali melihatku keluar bersama Dian menuju tempatku memarkir motor. Begitu sampai, segera aku nyalakan motorku. Di atas jok motor aku mengucapkan salam kepada Dian untuk pamit pulang.

“Assalamu’alaikum” salamku pada Dian

“Wa’alaikumsalam Warohmatullahi Wabarokatuh” jawabnya pelan

Kujalankan motorku, namun belum sampai dua meter, tiba-tiba Dian memanggilku dan berkata “Ka! Kaka’ pasti bisa menjaganya”, akupun tersenyum dan kembali memacu motorku meninggalkan rumahnya dengan membawa amanah dari bapaknya.

Kupang 7 Juni 2011/6 Rajab 1432H

Baca cerita sebelumnya Setetes embun diteriknya mentari

Advertisements

16 Responses to Segenggam amanah

  1. ehm ehm….

    ini cerita nyata ya kang??? 😀

    Bukan Pak, hanya hayalanku saja. 🙂
    hehehe

  2. LOWONGAN PERUSAHAAN ONLINE GAJI HINGGA 15 JUTA RUPIAH
    .
    .
    .
    Cara Pendaftaran di http://kerjaonline200.blogspot.com/

    maaf komennya saya edit untuk menghemat space

  3. joe says:

    Jika kamu jaga dengan baik, maka ia akan terbang dengan indahnya

    saya suka kalimat itu

    Makasih 🙂

  4. alkatro says:

    layang layang merupakan tamsil yang indah kang,
    karena kadang mencintai seseorang dengan cara berlebihan akan terlihat mengekang orang yang kita sayangi..

    maturnuwun telah berbagi, sugeng sonten 🙂

    Terimakasih juga sudah singgah

  5. sangat tersentuh dengan kata2 ini
    “Jagalah orang yang kamu sayangi, seperti kamu bermain layang-layang. Jika kamu jaga dengan baik, maka ia akan terbang dengan indahnya. Tapi jika ia terlepas maka akan banyak yang mengejarnya dan kamu akan sulit untuk mendapatkannya kembali.”

    Makasih Pak, saya juga kaget saat menerima sms itu dari si Dia. hehehe 🙂

  6. Batavusqu says:

    Salam Takzim
    Semoga berjodoh ya kak
    Salam Takzim Batavusqu

    Amiin…

  7. Fonega says:

    ini cerita asli?

    Pengennya, tapi bukan
    Hanya terinspirasi atas undangan yang sama dan tak sempat aku hadiri dan sms tentang layang-layang, serta meneruskan cerita sebelumnya Setetes embun diteriknya mentari

  8. ihir2…semoga dijodohkan sama Allah,hihihi

    Amiin

  9. isnuansa says:

    Cerita fiksinya bagus. Dian, nama yang indah.

    Terimakasih

  10. menone says:

    malang?… sama kayak menone heheheheeeee

    salam persahabatan selalu dr MENONE

    Wah aremania donk, boleh donk ditraktir bakso malang. hehehe
    Salam persahabatan kembali

  11. hajirin says:

    cerita yang menarik…
    dtunggu episode selanjutnya…

    Sip, makasih.

  12. niQue says:

    tiwas ngira ini fakta
    eh fiksi toh 😀

    Hehehe iya. 🙂

  13. bintangtimur says:

    Waaah, bukan cerita pribadi to?
    Kalo yang happy ending gini saya suka…hehe, ikut seneng soalnya… 😀

    Dibikin happy ending, biar seneng yang baca. hehehe

  14. kartunmania says:

    terkesima bacanya kang… apik tenan… fiksi atau tidak kayaknya masih ada hubungannya dg kisahmu kang… 🙂

    Hahahaha, tau aja 🙂

  15. mamaray says:

    ndang ditembung to Kang… wis ono lampu ijo, xixixiixx

    salam kenal ya, Kang…

    Iya udah kok, tinggal nunggu hari H saja, minta do’nya ya?
    Salam kenal kembali dari Kangto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: