Sapi aja tahu

Pagi ini aku berniat pergi ke sawah untuk melihat suasana pagi di persawahan sekaligus melihat tananam padi ayahku yang mulai berbuah. Sebenarnya tidak terlalu pagi juga, soalnya matahari sudah bersinar terang di ufuk timur sana. Dengan pakaian santai dan bermodal sepeda butut kesayangan, akupun meluncur ke sawah yang tidak jauh dari rumahku. Kukayuh perlahan sepeda bututku diikuti dengan adik-adikku yang juga ikutan ke sawah. Kebetulan hari ini adalah hari minggu, jadi mereka tidak pergi ke sekolah.

Kurang lebih sepuluh menitan kukayuh sepedaku, dan akhirnya akupun sampai di persawahan desaku. Setelah kuparkirkan sepeda bututku, aku dan juga keempat adikku yang masih duduk di bangku SD dan SMP berjalan menuju gubuk yang berada di pinggir sawah ayahku. Terlihat ayahku sedang memasang beberapa bendera plastik, dan kaleng yang berisi kerikil yang bisa menimbulkan suara di tiang-tiang bambu di titik tertentu. Hal ini dimaksudkan untuk mengusir burung ataupun ayam yang biasa mencari makan di sawah. Aku yang belum begitu mengerti apa yang harus aku lakukan, maka aku hanya bisa membantunya mengulur tali rafia dari tiang-tiang tersebut ke gubuk tempat kami berteduh.Kucoba berjalan menyusuri pematang yang ada di tepian sawah untuk melihat pemandangan yang ada. Tampak tanaman tebu yang belum tinggi, mendominasi sawah-sawah di sini. Sedang beberapa petak sawah terlihat ditanami padi yang sudah mulai berbuah, termasuk sawah milik ayahku. Namun ada juga sawah yang masih terlihat kosong belum ada tanaman yang tumbuh di sana. Hanya gundukan tanah yang masih terlihat berantakan, sisa habis panen. Melihat sisa yang tertinggal, bisa dipastikan bahwa sawah itu habis ditanami kacang tanah.

Matahari belum beranjak jauh dari ufuk timur, Lik Wardi (paman Wardi-red) terlihat sedang menuju sawah dengan sapi di sebelahnya. Sapi itu terlihat kekar dan kuat. Semakin lama, Lik Wardi pun semakin dekat denganku. Segera aku menyapanya.

“Ajeng ngluku sabine sinten Lik?”1 tanyaku dengan bahasa jawa krama halus, sebagai penghormatan kepada orang yang lebih tua.

“Iki, sawahe Lik Warto!”2 jawabnya dengan bahasa jawa ngoko begitu sampai di sawah yang di tuju.

“Ingkang nembe rampung panen kacang niku?”3 tanyaku kembali dengan bahasa yang sama

“Iyo, kemis wingi sing panen!”4 jawabnya kembali sembari memasangkan alat bajak ke punggung sapi. Setelah selesai, segera dia menaiki bajak dan mencambukkan cambuk yagn dipegangnya denga tangan kanannya kepantat sapi agar segera bejalan. Sedang tangan kirinya memegang tali untuk mengendalikan sang sapi. Ajaib memang, begitu terkan cambukan, sapi itupun bergegas jalan dan menarik bajak yang sudah melekat dipunggungnya.

Baru beberapa langkah sapi itu jalan, terdengar terikan khasnya saat mengendalikan sapi. “Heerrrr…heeerrrr…husssah” sembari menarik tali ke arah kanan dan lagi-lagi cambuknya mendarat dua kali ke pantat sapi bagian kiri “cetarr…cetarr”. Si sapipun berbelok arah ke kanan mengikuti kemaun Lik Wardi. Mendengar terikan serta suara cambukannya, membuatku teringat kembali akan masa kecilku dulu. Dimana kalau ada orang yang sedang membajak sawah yang baru selesai panen kacang, aku seringkali mengikutinya dari belakang, sembari mengambil sisa-sisa kacang yang keluar dari tanah yang sedang di bajak. Rasa kacang ini lebih enak daripada kacang yang baru saja di panen. Mungkin karena kadar airnya sudah berkurang, akibat tidak ada lagi makanan yang bisa diserap setelah pohonnya dicabut, atau karena panasnya tanah yang terkena sengatan matahari, aku juga kurang tahu. Yang jelas memang kacangnya lebih kering dan rasanya lebih enak.

“Mas…mas…ditimbali Bapak!”5 terdengar suara adikku yang paling kecil sembari menarik-narik tangan kiriku yang membuatku sadar dari lamunan.

“Wonten nopo Pak!”6 tanyaku kepada Bapak setengah berteriak

“Tulung iku tariken nang gubuk taline!”7 teriak Bapakku  meminta bantuanku

“Nggih, sekedap!”8 jawabku sembari bergegas menuju ke tempat Bapakku berdiri. Sementara adikku mengikuti dari belakang dan hanya berhenti sampai di gubuk saja. Tak begitu lama akupun sampai. Segera kuambil tali rafia dari tangan Bapakku dan kutarik hingga ke gubuk, dimana adik-adikku sedang duduk-duduk dan bernyanyi.

“Dik! Iki cekel! aku tak munggah sik!”9 pintaku pada salah satu adikku sembari menyerahkan tali rafia yang aku pegang. Setelah sampai di atas dan aku ikat tali rafia di salah satu tiang, segera aku duduk manis sembari memperhatikan Lik Wardi yang masih sibuk dengan kegiatan membajaknya. Terlihat, hampir separuh petak sawah yang telah dia bajak. Terikan serta suara cambukan Lik Wardi untuk mengatur jalan si sapi, masih sering terdengar dari gubuk tempatku berteduh. Sebenarnya aku kasihan pada si sapi yang selalu mendapatkan cambukan setiap kali dia tidak mau mengikuti kemaun Lik Wardi. Namun apa daya, mungkin kalau cuma terikan saja sapi itu tidak akan mengerti apa yang diinginkan Lik Wardi.

Matahari mulai beranjak naik, hampir tepat berada di atas kepala. Sinarnyapun mulai terasa panas menyayat kulit. Pertanda waktu istirahat telah tiba. Bapakku dan Lik Wardipun menghentikan kegiatannya. Bapakku bergegas menuju ke gubuk untuk istarahat dan memakan bekal yang sudah kami bawa dari rumah, sedang Lik Wardi terlihat duduk di bawah pohon rindang di tepi sawah yang berteduh sembari minum air putih dari kendi (teko dari tanah liat-red) yang dibawanya dari rumah. Melihat Lik Wardi yang tidak membawa bekal, Bapakkupun memanggilnya untuk bergabung dengan kami.

“Kang, rene! mangan bareng-bareng!”10 teriak Bapakku kepada Lik Wardi yang tak terlalu jauh dari gubuk kami

“Iyo Kang! matur nuwun”11 jawabnya berteriak juga

“Ayo rene, isih akeh ini sego lan lawuhe!”12 teriak Bapakku kembali. Tak ingin mengecewakan Bapakku akhirnya, Lik Wardi beranjak dari duduknya dan menuju gubuk tempat kami makan. Begitu sampai, Bapakku langsung memintanya untuk mengambil nasi dan juga lauknya. Karena gubuk yang tidak begitu luas, aku bersama dengan Bapak dan juga Lik Wardi harus makan sambil duduk di pematang sawah di depan gubuk yang tidak kena panas karena tertutup bayangan gubuk. Sementara keempat adikku berada di atas gubuk. Bukan bermaksud tidak menghormati orang yang lebih tua, namun karena kasihan melihat anak kecil harus makan di pematang sawah, maka kami yang lebih tua harus rela mengalah.

Sembari menikmati makanan, Bapakku dan Lik Wardipun bercerita tentang banyak hal. Aku hanya bisa mendengarkan, dan terkadang menganggukkan kepala tanda mengerti apa yang mereka bicarakan. Dalam suatu kesempatan akupun bertanya pada Lik Wardi perihal cambukan kepada sang sapi.

“Lik! Mboten mesakke sapine dipun pecuti?”13 tanyaku pada Lik Wardi

“Sak benere yo sakake, tapi yen ora dipecut kadang ora gelem mlaku sapine”14 jawab Lik Wardi menjelaskan.

“O…. ngoten tho!”15 jawabku mencoba mengerti alasan yang dikatakan Lik Wardi.

Aku pikir-pikir memang ada benarnya juga apa yang dilakukan Lik Wardi tersebut. Kadang memang tak cukup dengan berbagai petuah saja, agar kita bisa menyelesaikan tujuan kita dengan baik. Cambukan kecil seperti kegagalan dan cobaan kadang diperlukan untuk meningkatkan semangat dalam meraih tujuan itu. Seperti halnya cambukan Lik Wardi kepada sapi yang membuat sapi itu mau berjalan lagi untuk menyelesaikan tugasnya membajak sawah.

Matahari tepat berada di atas kepala. Suara adzan sholat dhuhurpun mulai terdengar menghiasi cakrawala siang. Kamipun bergegas membereskan sisa-sisa makan siang kami. Setelah semuanya beres, kamipun beranjak dari gubuk tempat kamu berteduh. Aku berserta bapak dan adik-adikku bergegas menuju rumah untuk mandi dan selanjutnya menunaikan sholat dhuhur. Adapun Lik Wardi terlihat menarik sapinya keluar dari sawah dan berjalan menuju rumahnya.

Ternyata di sawahpun kita bisa mendapatkan pelajaran yang mungkin tidak kita dapatkan di bangku sekolah ataupun kuliah. Semoga kita senantiasa menjadi orang yang mau mencari makna yang ada di sekitar kita.

Catatan :

1.    Mau bajak sawahnya siapa Paman?

2.    Ini, Sawahnya Paman Warto!

3.    Yang baru selesai panen kacang itu?

4.    Iya, kamis kemarin panennya!

5.    Mas..mas…dipanggil Bapak.

6.    Ada apa Pak!

7.    Tolong tarik tali ini ke gubuk.

8.    Iya, sebentar!

9.    Dik, ini pegang, aku mau naik dulu.

10.  Kang, sini! Makan sama-sama

11.  Iya Kang, terimakasih.

12.  Ayo sini, masih banyak ini, nasi dan lauknya!

13.  Paman, nggak kasihan sapinya dicambuki?

14.  Sebenarnya kasihan, tapi kalau tidak dicambuk, kadang ga mau jalan sapinya.

15.  O… gitu ya?

Kupang, 16 Juni 2011/15 Rajab 1432H

Advertisements

9 Responses to Sapi aja tahu

  1. harus ada pecutan dalam kehidupan ini, untuk menyadarkan kita ya kang .. 🙂

    Kadang diperlukan cambukan, agar bisa menambah semangat untuk mencapai tujuan 🙂

  2. fitr4y says:

    benar,, tenaga super akan keluar dalam keadaan kita tertekan .. 🙂

    Super sekali 🙂

  3. banyak pelajaran berharga yang dapat kita ambil dari sekitar kita..

    Benar sekali, tinggal kita mau mengambilnya atau tidak. 🙂

  4. yo mari kita kuliah di sawah aja ama sapi 😀 hehehe….

    Kuliah kehidupan bisa dimana saja, tak terkecuali di sawah, hehehehe

  5. Di tempatku suasana seperti ini sudah tak bisa lagi ditemukan. Sawah telah menjadi bangunan perumahan, padahal simbah dulu juga makaryo di situ persis seperti yang diceritakan di atas.

    Suasana seperti di atas bisa menjadi alternatif refreshing. Hehehehe 🙂

  6. […] mahes|mamahnya aline|bang joe|mbak ariyanti|bang andixmenone|bang setiaonebudhi|mbak ysalma|kang anto|kang erfano|mbak anny|mbak idana|mbak amelia|uda vizon|kang dadang|mbak fitrimelinda|mamahnya […]

    baru bagi-bagi award ya Pak? terimakasih sudah berkunjung 🙂

  7. dhila13 says:

    motivasi memang diperlukan ya pak…

    Motivasi mutlak ada untuk pelecut semangat, kalau hidup tak ada motivasi, perubahan itu tak akan ada 🙂

  8. hudaesce says:

    saya kok jadi kangen pergi kesawah, hampir 3 tahun lamanya gak pernah lagi menginjakkan kaki diatas tanah sawah 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: