Setetes embun diteriknya mentari

Waktu isitrahat telah tiba. Kurebahkan tubuhku sejenak, agar lelah yang mendera bisa sedikit sirna. Setelah beberapa menit kunikmati aliran darah yang mulai normal kembali, segera kukemasi barang-barangku untuk bergegas pergi. Pergi meninggalkan kantor untuk selanjutnya menuju rumah dan menunaikan sholat jumat di masjid dekat rumah.

Kukendarai motorku menyusuri jalanankota. Terik mentari tak terelakkan lagi. Panasnya serasa membakar sekujur tubuh. Kumpulan awan tebal yang bergumpal di angkasa, tak mampu menahan tajamnya sinar sang mentari. Sinarnya terang menyanyat kulit bumi. Aspal jalananpun tak mampu meredamnya. Dengan cepat dia biaskan sinar mentari, hingga membentuk sebuah fatamorgana yang menyilaukan mata.

Angin berhembus pelan, mencoba mengusir panas yang ada. Kuatnya sinar mentari, membuat sang angin tak mampu mengusirnya. Desiran angin panas masih menyertaiku menyusuri jalanankota. Lampu merah di perempatan pos polisi eltari menyala terang. Menyuruhku berhenti sejenak untuk menikmati lalu lalang kendaraan. Terik mentaripun semakin liar menggigit kulit ariku. Seringkali kusembunyikan tanganku untuk menghindari teriknya.

Perjalanan kulanjutkan ketika lampu hijau menyala. Beberapa klakson dari kendaraan di belakangku mulai berbunyi. Pertanda mereka tak sabar untuk segera memacu kendaraannya agar cepat sampai ditujuan. Akupun memacu motorku dengan kecepatan sedang. Berharap agar lebih awal sampai di rumah.

Sesampainya di jalanan depan kantor Gubernur, kubelokkan motorku ke kanan untuk memutari pembatas jalan dua arah jalan ini. Begitu berganti arah, terlihat banyak pedagang kelapa muda dan jagung bakar berderet di sisi kiri. Dari kejauhan terlihat ada dua gadis berjilbab sedang bersantai menikmati kelapa muda di salah satu depot penjual.

Lamat-lamat kuperhatikan, sepertinya aku kenal dengan kedua gadis itu. Akupun melambatkan laju kendaraanku mencoba mengenali kedua gadis itu. Semakin mendekati tempat kedua gadis itu, semakin tidak asing wajahnya bagiku. Ternyata benar dugaanku, aku memang kenal dengan kedua gadis itu. Apalagi gadis yang berjilbab biru dengan wajah ovalnya, semakin membuatku yakin kalau itu memang dia. Dia yang selalu mengusik ketenangan hatiku. Menumbuhkan rasa cinta yang tak pernah aku duga.

Semakin kuperlambat laju motorku, berharap mereka mengenaliku, dan memintaku untuk bergabung dengan mereka. Menikmati segarnya air kelapa muda di tengah teriknya mentari. Gayungpun bersambut, ternyata mereka juga mengenaliku. Gadis berjilbab biru itu memanggilku dan memintaku untuk bergabung. Bak tanaman yang kekurangan air mendapat tetesan air hujan, akupun segera menepikan motorku untuk bergabung dengan mereka.

Kuperhatikan kembali wajah yang dibalut jilbab biru itu. Senyum indah terlukis disana. Memberikan desiran aneh dalam hatiku. Mendadak ada kesejukan yang merasuk ke dalam seluruh tubuhku, di tengah teriknya mentari siang ini. Dengan tutur katanya yang lembut, membuatku semakin tak berdaya mengendalikan hati ini. seolah ada getaran hebat yang membuatku tak berdaya menguasai diri.

“Ayo kak diminum air kelapa mudanya.” kata Dian gadis berjilbab biru memintaku untuk segera meminum kelapa muda yang sudah tersedia di hadapanku.

“Iya, terimakasih.” jawabku setenang mungkin.

“Mau kemana kak! kok panas-panas gini keluar?” tanya Dini temannya Dian kepadaku.

“Iya. Ini mau pulang untuk jumatan di Masjid Nurul Iman.” jawabku pelan sembari menyeruput segarnya air kelapa muda.

“Astaghfirullah. Ini hari jumat yak Kak! Maaf kak! Seharusya aku ga memanggil kakak untuk bergabung.” jawab Dian meminta maaf karena merasa telah menghambat perjalananku untuk menunaikan sholat jumat.

“Ah..tidak apa-apa. Lagian aku juga kehausan karena terik mentari kali ini.” kataku untuk sekedar menenangkan hatinya.

“Yang benar kak?” tanyanya lagi untuk memastikan

“Iya benar!” jawabku singkat untuk meyakinkannya.

“Kak, hari minggu lusa kakak ada acara gak?” tanya Dian kepadaku

“Sementara sih belum ada acara. Kenapa?”

“Kalau begitu kakak ke rumahku aja. Kebetulan hari minggu siang bokap bikin acara syukuran atas wisudaku.” jawabnya menjelaskan.

“InsyaAllah ya. Soalnya kakak mau lembur di kantor sebentar. Btw bolehkan datang rombongan dengan teman-teman kantor kakak.”

“Iya, ga apa-apa kak. Aku malah senang kok. Tapi benar ya kak, kakak datang.” tanyanya ingin mendapatkan kepastian akan kedatanganku.

“InsyaAllah. Akan kakak usahakan.”

Waktu menunjukkan pukul sebelas lebih empat puluhlimamenit. Air kelapa mudapun sudah kuhabiskan. Kerongkonganku yang sempat kering karena teriknya sinar mentari, kini sudah segar kembali. Kini saatnya aku undur diri. Setelah membayar semua yang kami pesan, akupun pamit kepada mereka.Adasenyum harap yang menghias wajah Dian akan kedatanganku di acara syukuran wisudanya. Akupun tak kalah berharapnya untuk bisa datang di acaranya.

Kukendarai lagi motorku menuju rumah. Menerobos panasnya terik mentari yang kini tak terasa lagi oleh kesejukan karena bertemu dengan gadis pujaan hati. Dalam perjalanan ke rumah, bunga-bunga bahagia menyertaiku sepanjang sisa perjalanan siang ini.

Kupang, 22 Mei 2011/19 Jumadil Akhir 1432H

Advertisements

5 Responses to Setetes embun diteriknya mentari

  1. dede6699 says:

    aduh kelapa muda..betapa nikmat’a kala itu..hee..
    Wah wah..gdis itu sang pujaan hati’a yah..hehee

    Lengkap dah pokoknya. Dapet manisnya kelapa muda, dapet juga manisnya senyuman sang pujaan hati. 🙂

  2. adiekeputran says:

    ihiiir…ciee…
    apakah yang terjadi pada minggu lusa, tunggu kelanjutannya..hehe
    salam kenal kang 🙂

    Tunggu episode berikutnya. hehehehe. Salam kenal kembali 🙂

  3. choirul says:

    wah padahal seharusnya g minum es kelapa muda udah sejuk karena gadis berjilbab biru….. he he he

    jadi penasaran ne apa yang terjadi di lusa depan… he he he

    Gadis berjilbab biru untuk menyejukkan hati sedang kelapa muda untuk menyejukkan tenggorokan. hehehe. Jadi tak sabar nunggu lusa depan. 🙂

  4. Ompiku says:

    Menyeruput air dan daging kelapa muda, ditemani gadis muda…

    Ah… muda-muda-an tetap segar walau suda abis kelapa muda-nya.

    Yang muda-muda memang seger. 🙂

  5. […] Cerita sebelumnya Setetes embun diteriknya mentari […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: