Aku malu padamu, Nurmi

Di kamar yang tidak begitu luas, dan berdindingkan batu bata yang belum di plester, tertidur lemas seorang perempuan setengah baya di atas balai bambu. Badannya terlihat kurus dibalut dengan kain sarung yang lusuh. Sesekali suara batuk berat keluar dari mulutnya yang sedikit membiru. Sudah hampir tiga tahun perempuan itu tidak berdaya di kamar tidur. Kakinya lumpuh karena terjatuh ketika menjadi buruh pengangkut tebu.

Kepedihan pun tak hanya sampai di situ. Suami yang menikahinya sepuluh tahun yang lalu, memelih pergi meninggalkannya. Meninggalkan dirinya yang sedang merintih kesakitan. Meninggalkan anak perempuan mereka satu-satunya. Anak perempuan yang tebilang cantik di kampung tempat mereka tinggal. Kampung yang masih jauh dari hiruk pikuk keramaian kota.

Wajah yang cantik, kulit sawo matang dengan hidung mancung serta wajah yang oval, menambah keanggunan dalam dirinya. Keceriaanpun selalu melekat di wajahnya, tak sedikitpun tergurat rasa sedih. Tampak ketegaran yang maha besar bersarang dalam dirinya. Tingkahnya terlihat lebih dewasa dari usianya. Tutur katanya juga terlihat lebih tertata dibanding anak-anak sebayanya. Gadis kecil itu begitu anggun dengan setelan baju dan rok selutut warna merah bergambar bunga yang melekat di tubuhnya.Gerakannya begitu lincah. Cekatan dalam melakukan berbagai hal yang tak seharusnya dilakukan oleh anak seusianya. Perkejaan menanak nasi, membersihkan lantai, sampai menyuapi dan mengganti pakaian Ibunya yang tergolek lemas tak berdaya di dalam kamar. Itulah kegiatan sehari-hari yang dilakukannya di rumah sebelum dan setelah sekolah. Tubuhnya yang mungil, tak mehalangi dirinya untuk melakukan semua itu. Hanya kebesaran jiwa dan keikhlasan yang terpancar dari raut wajahnya.

***

Sore itu, aku dan istriku sengaja berkunjung ke rumah bu Darti yang sedang tergolek lemas. Terlihat anaknya yang bernama Nurmi sedang sibuk memijit-mijit kakinya. Dengan suara agak berat bu Darti mempersilahkan kami duduk di kursi plastik warna hijau yang ada di ruangan itu. Kamipun duduk di kursi yang berhadapan dengan Nurmi yang sedang sibuk memijit kaki Ibunya.

Dengan suara pelan istriku mencoba membuka pembicaraan.

“Bagaimana bu keadaannya?” tanya instriku pelan ingin tahu perkembangan kondisi bu Darti.

“Yah, masih seperti biasa bu. Belum ada perkembangan berarti.” jawabnya lirih menjelaskan keadaannya.

“Ya, yang sabar bu. Semoga Allah memberi kesembuhan.” imbuhku mendo’akan bu Darti agar segera sembuh.

“Amiin.” terdengar suara bu Darti mengamini.

“Ini Nurmi masih sekolah atau gak bu?” tanya istriku kepada bu Darti.

“Nur, itu kami di tanya sama bu Ina.” Kata bu Darti kepada anaknya sembari memegang pundak anaknya yang sebelah kiri. Dengan segara Nurmi pun menjawab pertanyaan istriku.

“Masih bu!”

“Kelas berapa?” tanya istriku kembali

“Kelas lima bu!” jawabnya lagi sembari tetap memijit kaki ibunya.

“Wah kalau ga ada halangan setahun lagi lulus ya?”

“Iya bu. Semoga Nurmi bisa menyelesaikan sekolahnya.” jawab bu Darti mengiyakan pertanyaan istriku.

“Nanti kalau lulus mau nerusin ke mana Nur?” tanyaku kepada Nurmi yang masih saja sibuk memijit kaki ibunya.

“Gak tau Pak!” keluar jawaban polos dari bibir mungil Nurmi.

“Saya juga ga tau Pak, apa Nurmi bisa melanjutkan sekolahnya. Karena selain biaya yang tidak ada, Nurmi juga harus merawat saya yang tak berdaya ini.” imbuh bu Darti disertai lelehan air mata yang mulai mengalir di kedua pipinya. Masih dalam balutan tangis bu Darti menyuruh Nurmi membuatkan minum untuk kami.

“Nur, buatkan minum untuk bapak dan ibu ini.” perintahnya kepada Nurmi. Dengan segera Nurmi turun dari balai dan menuju ke dapur untuk membuat minuman. Tak lama berselang, Nurmipun masuk kembali ke dalam kamar dengan sebuah nampan di tangannya. Terlihat dua gelas air putih menghias di atas nampan yang dibawanya. Dengan santun, Nurmi menyerahkan minuman itu kepada kami sembari mempersilahkan kami untuk meminumnya.

“Silahkan diminum Pak, Bu!”  pinta Nurmi kepada kami.

“Maaf Pak, hanya itu yang bisa kamu suguhkan.” terdengar suara parau bu Darti meminta maaf atas apa yang bisa disuguhkan.

“Gak apa-apa Bu, ini juga sudah lebih dari cukup. Malahan kami yang harusnya minta maaf karena telah ngrepotin Ibu dan Nurmi.” jawabku sembari meminta maaf karena telah merepoti mereka berdua.

Langit sore mulai menghiaskan warna merahnya. Mentaripun sudah mulai malu menyapa para pengagumnya. Kumpulan ayam mulai kembali ke sarangnya. Cicitan burung pipit bergema di angkasa. Kelelawar mulai manari-nari indah di cakarawala, menelusuk ke dalam pacaran warna merah angkasa yang mulai menghilang. Di antara kesunyian petang aku dan istriku beranjak dari tempat duduk. Pamit kepada bu Darti dan Nurmi untuk undur diri. Senyuman ramah bu Darti dan wajah tegar Nurmi mengiringi langkah kami.  Meninggalkan rumah sederhana dengan penghuni yang sangat luar biasa. Begitu kami meninggalkan rumah bu Darti terbesit do’a dalam hati, agar bu Darti bisa lekas sembuh dan Nurmi selalu diberi kekuatan untuk menjalani semuanya.

Kupang, 18 Mei 2011/15 Jumadil Akhir 1432H

Advertisements

7 Responses to Aku malu padamu, Nurmi

  1. fitr4y says:

    Nurmi yg hebat ..

    Ya, aku saja ga bisa sehebat dia.

  2. cobaan hidup yg lumayan berat..

    keren cerpenna mas .. 🙂

    Makasih, Melihat realita yang ada di sekitar kita. 🙂

  3. Pencerah says:

    realitakah mas?

    Melihat berita di televisi, jadi terinspirasi bikin cerita ini. Banyak anak kecil yang harus berjuang merawat Ibunya yang lumpuh, sedang ayahnya pergi entah kemana.

  4. Mbah Jiwo says:

    Nurmi oh nurmi…he he he

    Bebanmu ini….

  5. tukangpoto says:

    Kayaknya masih panjang nih,mas ceritanya…

    Sebenarnya sih, tapi idenya belum dapet.

  6. dede6699 says:

    cerita’a bgus..begitu tega sang suami meninggalkan nurmi n istri’a..mmm

    Terimakasih, begitulah manusia. Giliran susah ga mau sama-sama

  7. ysalma says:

    Nurmi, kau anak hebat, semoga benar2 ada “mata” yang terbuka untuk mewujudkan cita2 mu, tanpa melupakan ibumu.

    Amiin, salam kenal dan salam persahabatan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: