Mencari istri tak seperti membeli baju

Ada guyonan (becandaan-red) yang masih teringat sampai sekarang ketika ramai-ramai makan malam di kampung Solor, Kupang. Seperti biasa, malam itu aku dan ketiga temanku mencari makan malam yang berbeda dari biasanya. Maklum, tanggal muda. Dompet masih tebel. Jadi mau cari suasana dan sensasi yang berbeda. Jadilah pasar malam kampung Solor menjadi tujuan kami. Dimana di sana banyak penjual makanan dan kue.

Sudah menjadi kebiasaan juga, setiap kali makan di situ, yang kita cari adalah seafood. Maka menujulah kami ke warung langganan yang menjual seafood. Kebetulan masih ada tempat yang kosong. Langsung saja kami berempat duduk mengambil posisi masing-masing. Tempat duduk sudah dapat, kini saatnya kami mulai memesan sendiri menu makan malam. Kebetulan aku lagi pengen makan cumi bakar. Maka segera aku pilih cumi yang pas biar cepat diproses.

Acara milih-memilih telah usai, kini tiba waktunya nunggu pesanan datang sembari ngobrol ngalor ngidul dan juga pesan minuman. Tak menunggu lama.minuman yang kami pesanpun datang. Setelah selesai mencicipi minuman masing-masing, ceritapun dimulai. Entah siapa yang duluan, ceritapun mengalir begitu banyak, hingga tak terasa berapa lama waktu yang telah kami lewati. Entah kenapa kok salah seorang dari kami ada yang berseloroh, “makanya kalau cari istri itu yang bener, karena istri itu ibarat baju, harus bisa menutupi kekurangan suami.”“Iya sih, tapi kan milihnya tidak seperti memilih baju” celetuk salah seorang teman yang masih bujang. Akupun heran dengan jawaban temanku ini. Kebetulan aku juga salah satu orang yang masih bujang. Karena heran, akupun segera bertanya, “emang apa hubungannya milih baju sama milih istri”. “Kamu pernah ga beli baju di mall atau supermarket?” “pernah!” “Gimana kamu belinya?” “dicoba-coba dulu, cari ukuran dan warna yang pas, kalau cocok baru beli serta minta ukuran dan warna yang sama tapi yang masih bungkusan.” “coba kalau kamu cari istri juga seperti itu, apa ga digampar atau bahkan bisa dibunuh, kalau caramu seperti itu?” “wakakakakakakakaka”. Tawapun keluar dari kami, mendengar jawaban itu.

Waktu terus berjalan, malampun semakin dingin. Mungkin sudah sekitar setengah jam kami ngobrol menunggu makanan yang kami pesan datang. Namun sampai tawa kami habispun makanan tak kunjung datang. Hal ini memang sudah biasa, mengingat hari ini malam minggu jadi banyak pengunjung. Beruntung kami tadi masih mendapatkan tempat duduk. Biasanya kalau terlambat sedikit saja, tempat duduk sudah penuh, dan harus rela antri berdiri menunggu pelanggan yang lain selesai dan pergi. Lima menit berlalu, akhirnya satu perasatu makanan yang kami pesan datang. Setelah komplit kamipun segera menyerbu dan larut dalam kenikmatan masing-masing.

Kupang, 27 Mei 2011/24 Jumadil Akhir 1432H

Advertisements

14 Responses to Mencari istri tak seperti membeli baju

  1. banyak yang harus dipikirkan dalam menentukan calon istri ya kang….
    tpi jangan terlalu banyak, ntar malah ga keburu nikah… hehehe

    Urusan hati, dan juga kultur, jadi agak ribet. Beda daerah juga beda tradisi. 🙂

  2. Cibu says:

    tergantung niat, dan isteri yang seperti apa…
    yang ideal itu yang tidak mudah …

    Setuju nih. 🙂

  3. B.s.u. says:

    nice share gan

    Sama-sama 🙂

  4. dede6699 says:

    pilih pilih meunang nu leuwih(pilih” dapat yg lebih) heehee.. Yahh bner bngt..mncri istri tdak mudah, susah ahh yg bner” sipp..hee.. Mana cnta ini on off pda’a..hadduhh..crta pa nih..hee.. Cumi’a bagi dong mas..hee

    Maen ke sini atuh, ntar ane traktir deh. 🙂

  5. easy says:

    sama halnya dalam menerima seseorang yang akan jadi suami…
    ga sembarangan dong.. hehe

    Begitulah… 🙂

  6. akhnayzz says:

    itu berlaku sebaliknya atau tidak ya maz,,
    salam kenal,, selamat berkarya<<<

    Sepertinya berlaku sebaliknya juga. 🙂

  7. yeni says:

    memilih sesuatu yang penting haruskah selektif . . .
    seperti yang anda katakan, tidak seserti memilih baju
    salam blogger

    Sip, setuju.
    Salam blogger kembali 🙂

  8. hduhhhh … susah juga sih,, aku ingat pesan pak mario,, pantaskan dirimu untuk mendapatkan yang terbaik .. 😀

    Kalau mau yang terbaik, maka menjadilah yang terbaik. 🙂

  9. fitr4y says:

    pesan pak mario lagi,, katika pacaran tuntutlah yang terbaik,, tapi ketika setelah menikah terimalah apa adanya .. begitu kang kata pak mario .. heheh

    salam 🙂

    Sip, bolehlah kalau yang menganut sistem pacaran sebelum nikah. hehehehe
    Salam kembali 🙂

  10. Mhd Wahyu NZ says:

    hahaha… ya memang repotlah kalau cari isteri harus fitting dulu. hahaha…

    Wakakaka, bisa aja nih Bos satu. 🙂

  11. bikin anak juga ga kayak bikin baju. 😀

    Setuju nih.

  12. wah, kalau cari calon istri pake dicoba dulu, keknya repot. Lha ntar kalau dah dicoba trus ga cocok dan ga jadi diambil istri kan ga enak banget tuh si calon istri 😦

  13. Kalau pake prinsip idealisme, manusia tak ada yang sempurna, pasti ada kelebihan dan kekurangannya. Standar yang terlalu tinggi akan menyulitkan kita sendiri dalam mendapatkan pendamping hidup.

    Salam,
    HALAMAN PUTIH

    Urusan hati itu tak ada ukuran pasti, cocok munurut kita belum tentu cocok menurut orang lain. So biarlah kejujuran hati yang memilihnya. 🙂

  14. Citra W. Hapsari says:

    ta’aruf secukupnya,dan biarkan Allah menyelesaikan dengan caraNya 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: