Ijinkan aku menjadi temannya

Kenapa sih kamu mau berteman dengan dia. Dia kan tidak satu geng dengan kita. Dia kan tidak satu hobi dengan kita. Dia kan tidak satu level dengan kita. Mau ditaruh di mana muka geng kita kalau ketahuan kita berteman dengan Dia. Kamu itu gak pantas berteman dengan Dia. Terdengar keras suara dari kelas seberang. Dari nadanya, tampak kalau mereka tidak terima jika salah satu temannya berteman denganku.

Sementara di sini. Di kelas tempatku menuntut ilmu. Temanku juga tak kalah sewot. Kenapa sih kamu masih mau berteman dengan dia. Dia kan sering menyakitimu. Dia kan sering menjahatimu. Dia kan sering membohongimu. Dia kan sering menghinamu. Tidak layak orang seperti Dia mendapat teman sebaik kamu. Sudahlah, jangan kau teruskan pertemananmu dengannya. Nanti kamu lebih tersakiti. Bujuk teman-temanku mencoba menasehati. Akupun hanya diam mendengarkan ocehan meraka.

Suasana kelas 3 IPA 1, tempatku berada lumayan sepi. Memang saat adalah waktunya istirahat. Jadi kebanyakan siswa lebih memilih ke kantin untuk mengisi perut. Atau hanya sekedar ngobrol dengan ditemani softdrink, yang memang segar diteguk di kala matahari sedang terik seperti siang ini. Di kelas hanya ada aku dan juga ketiga temanku. Vivi, Rasti dan Dinda. Merekalah yang sedari kelas 1 setia menjadi temanku. Teman sekelas di SMA fovorit di kotaku.SMA ini memang terkenal dengan prestasinya. Sehingga banyak orang yang berbondong-bondong ingin sekolah di sini. Baik itu dari golongan berada maupun golongan yang tak berpunya sepertiku. Akupun terbilang sangat beruntung bisa masuk di sekolah ini. Hanya bermodal nilai UAS yang pas-pasan, dan juga ekonomi keluarga yang jauh di bawah standar, aku masih bisa menikmati pendidikan di sekolah ternama ini.

Keberagaman yang ada di sekolah ini, secara tidak langsung telah menjadikan siswanya terkota-kotak dalam kelompoknya masing-masing. Mulai dari kelompok yang khusus untuk orang-orang berduit saja. Sampai kelompok khusus orang-orang berhobi sama. Namun ada pula yang tidak peduli dengan adanya kelompok-kelompok itu. Seperti halnya diriku. Aku tidak mengikuti suatu kelompok apapun. Aku berteman dengan siapa saja. Tak terkecuali dengan Nana, anak kelas 3 IPA 2 yang terkenal tajir dalam kelompok elitnya itu.

“Nit,…Nita…! teriak Vivi membangunku dari lamunan. Yah dibilangin malah ngelamun. Celotehnya sembari menggoyang-goyangkan bahuku, agar segera tersadar dari lamunan. Akupun tergagap. Kulihat  wajah ketiga temanku serius menatapku. Seolah menunggu jawaban atas saran mereka untuk tidak lagi berteman dengan Nana anak kelas 3 IPA 2.

Kuatur kembali posisi duduku sembari membenahi tatanan rambut dengan tangan. “sudah berapa lama kalian mengenalku?” “dua tahun lebih” jawab mereka serentak. “sudahkah kalian mengenal diriku?” serentak mereka menjawab “sudah”. “berarti kalian sudah tahu segalanya tentangku kan?” sekali lagi serentak mereka menjawab “sudah”. “lalu mengapa kalian melarangku berteman dengannya?” “kami kasihan melihat kamu terus-terusan dihina oleh teman-temannya Nana” jawab Vivi mencoba mewakili semuanya.

“aku ucapin terimakasih atas perhatiannya. Kalian kan sudah mengenal diriku begitu lama. Kalian juga sudah tau aku itu seperti apa. Jadi aku rasa kalian juga seharusnya bisa menerima apa yang aku lakukan.” jelasku meminta mereka untuk bisa menerima pertemananku dengan Nana. “bukannya kami tidak menerima apa yang kamu lakukan, tapi kami hanya tak tega jika kamu terus-terusan mendapat hinaan.” jawab Vivi kembali sambil menitikkan air mata kesedihan atas apa yang aku alami.

Suasana kelas seketika berubah jadi haru. Kesedihan atas apa yang sering aku alami tampak menyelimuti ketiga temanku. Mata mereka memerah dan mengeluarkan kristal bening. Kucoba menenangkan mereka dengan memegang tangan mereka bertiga. “apa yang aku alami, janganlah disesali, apalagi ditangisi. Ini adalah keinginanku sendiri untuk berteman dengan Nana. Jadi apapun resikonya aku siap menghadapinya.” “tapi kami tak tega melihat dirimu dihina oleh teman-temannya Nana.”rengek Rasti sambil terisak-isak.

“Aku tahu kalian begitu sayang padaku. Begitu juga diriku. Akupun sangat sayang pada kalian. Tapi aku juga ingin orang lain bisa merasakan kasih sayang kita. Untuk itu kita harus memulai menebar rasa sayang itu kepada siapa saja. Tak terkecuali Nana dan teman-temannya. Kalian harus tahu, aku berteman dengan Nana, bukan hanya kebetulan semata. Namun aku juga ingin mengajarkan kepada mereka apa arti teman yang sebenarnya. Agar mereka juga bisa merasakan seperti apa yang telah kita rasakan selama ini. Jadi aku harap kalian rela aku menjadi temannya.

Setelah kuyakinkan apa yang menjadi tujuanku kepada mereka, kami berempatpun berpelukan bersama. Terasa kehangatan kasih sayang menjalar ke seluruh tubuhku. Aku tak kuasa menahan rasanya. Tak teresa lelahan air mata harupun mengalir pelan membasahi pipiku. Membawa kehangatan ini merasuk ke dalam kalbu dan menentramkan jiwa.

Kupang, 11 Mei 2011 / 08 Jumadil Akhir 1432H

Advertisements

One Response to Ijinkan aku menjadi temannya

  1. molen pisang says:

    keep writing mas.. selamat buat tampilan barunya..

    kangto
    sip, makasih om

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: