Inikah rasanya

Wajahku tampak kusut. Begitu juga dengan baju yang melekat pada tubuhku. Baju putih yang sudah tidak seputih saat pertama aku beli. Dengan tubuh yang sudah tak wangi lagi, dan juga tenaga seadanya. Akhirnya aku sampai juga di mess. Mess tempatku istirahat selama bertugas di kota ini. Tempat diriku banyak menghabiskan waktu dengan teman-teman yang senasib denganku.

Diiringi dengan gumpalan awan di langit, motor yang aku naiki mulai memasuki pintu gerbang mess. Terlihat cat tembok warna kuning yang sudah lusuh menghiasi pagar mess. Adapun pos satpam tepat berada di sisi kiri pintu gerbang. Dengan halus satpam messpun menyapaku. Akupun membalasnya dengan menganggukkan kepala. Aku dan motorku melaju pelan menyusuri pelataran mess menuju parkiran.

Begitu sampai di parkiran. Ada gadis kecil yang menyambut dan menyapaku. “o..om Ato.., o..om Ato” begitu suara yang keluar dari bibir mungil gadis kecil itu. Dengan riang gadis kecil itupun belari menuju ke arahku seraya menjulurkan kedua tangannya. Akupun turun dari motor. Setelah kulepas helm yang melekat di kepala, dengan penuh kasih dan kemanjaan, kujemput dan kupeluk gadis kecil nan lucu itu.Dalam pelukanku, gadis kecil berusia sekitar 2 tahun itu berusaha becerita banyak. Namun karena ocehannya yang belum fasih benar, membuatku susah untuk memahami apa yang coba dia ceritakan. Dengan berjalan pelan, aku membawanya ke ruang tivi untuk nonton. Namun gadis kecil itu lebih memilih turun dan bergabung dengan kakak dan teman-temannya yang sedang asyik bermain.

Akupun melepaskan gendonganku dan berputar arah. Untuk selanjutnya menuju kamarku. Kamar ukuran 3×4 meter. Kamar tempatku merebahkan diri untuk menghilangkan penat setelah seharian bergelut dengan pekerjaan. Begitu masuk ke dalam kamar, segera kulepas jaket dan menaruhnya di gantungan baju. Masih dengan pakaian kerja, aku baringkan sejenak tubuhku. Kembali ingatanku berputar mengingat celotehan gadis kecil tadi yang menyambut dan menyapaku. Ada keharuan yang datang melanda.

Sejenak pikiranku melayang. Melayang jauh ke masa depan. Terbayang dalam pikiranku, betapa indah dan senangnya jika gadis kecil yang menyapa dan menyambutku tadi adalah anakku sendiri. Buah cinta dari istriku nanti. Khayalanku semakin jauh melayang, hingga menghilangkan rasa penat yang ada. Lama kelamaan tak terdengar lagi riuh ocehan anak-anak yang sedang bermain di seberang sana. Tak terasa akupun terbawa dalam indahnya dunia tanpa rupa dan suara. Hanya ketenangan yang mengalun jiwa. Membawaku lelap dalam gelapnya malam.

Kupang, 10 Mei 2011 / 07 Jumadil Akhir 1432H

Advertisements

One Response to Inikah rasanya

  1. Darin says:

    Salam Pak.
    Sebelumnya salam untuk kota Kupang yg saya tinggalkan. Sekarang saya posisi di Jayapura.
    Hmm, boleh sumbang saran ngga pak? backgroundnya kalau putih saja gimana? Saya agak ga enak kalau baca font putih :))
    Cuma saran saja lho pak. Memang selera masing2 🙂

    Btw, kisahnya sangat menyentuh. Saya jadi teringat anak sendiri yg juga jauh di sana. 😦

    kangto
    Salam juga Pak.
    Makasih Pak atas masukannya. Memang kesannya lebih asyik kalau backgroundnya putih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: