Kartini idolaku

Dikala malam belum beranjak pergi, dan ayam jagopun belum berkokok, wanita setengah baya itu sudah sibuk dengan aktifitasnya. Masih terlihat rasa kantuk bergelayut di pelupuk matanya. Namun demikian, dengan semangat yang membara dia coba tepiskan rasa kantuknya. Dengan kekuatan yang belum pulih seutuhnya, dia berusaha bangkit melawan rasa lelah yang ada. Beberapa kali masih terlihat dia menguap, menandakan rasa kantuk masih sangat gencar menyerangnya. Namun berulang kali juga dia berhasil menepisnya.

Di sinilah, di dapur yang tidak begitu luas. Berdindingkan anyaman bambu yang sudah tampak hitam pekat karena kepulan asap, perempuan itu memulai aktifitasnya. Dengan sigap diapun mulai menyalakan tungku yang sudah penuh dengan kayu di dalamnya. Terlihat dandang-dandang besar menghias di atas salah satu tungku. Dan di tungku yang lain tampak wajan yang sudah berubah warna jadi hitam gagah menghiasnya.

Ditemani sang suami tercinta, dia melakukan segalanya dengan riang gembira. Tak ada rasa sesal ataupun kelah kesah yang menghias wajahnya. Hanya rasa bangga dan bahagia bisa melakukan sesuatu, agar bisa menghidupi ketujuh anaknya yang masih dalam tanggungannya. Detik berganti dengan menit, dan menitpun berganti dengan jam. Namun dia masih sibuk dengan segala aktifitasnya. Dari mulai menanak nasi, membuat sayur serta lauk pauknya, hingga merebus air untuk membuat teh ataupun kopi. Itu semua dia lakukan berdua dengan suaminya. Kadangkala anaknya ataupun ibunya turut membantu jika kebetulan terbangun di tengah malam.Waktu sudah menunjukkan pukul empat dini hari, semua masakan sudah tampak siap untuk dihidangkan. Kini saatnya dirinya membangunkan anak-anaknya untuk membantu menata hidangan di warung depan rumahnya. Jalanan masih tampak sepi, hanya suara qiro’ah dari masjid dan mushola sekitar yang terdengar jelas di keheningan pagi ini. Dengan agak malas anak-anaknya mengliat untuk mencoba bangun. Namun dengan sabar dan tenang dia terus berusaha membangunkan anak-anaknya. Usahanyapun tidak sia-sia. Satu per satu anaknya mulai bangun. Dari yang paling besar sampai yang paling kecil yang masih kelas satu Sekolah Dasar kini sudah bangun semua.

Dengan cekatan anak-anaknyapun bergegas membantu dirinya.Adayang membersihkan warung.Adapula yang membantu menggorengtempeyang tersisa.Adajuga yang menata hidangan di warung. Semuanya berjalan teratur dan dinamis. Seolah sudah terprogram dalam diri mereka masing-masing. Ketika anak-anaknya sudah berkerja seusai dengan tugasnya masing-masing, kini saatnya wanita setengah baya itu membersihkan dirinya dari asap dapur dan debu yang menempel dengan mandi pagi. Sudah menjadi kebiasaannya memang. Setelah pekerjaannya selesai dia langsung mandi. Itu dia lakukan sebagai persiapan untuk menghadap kehadirat Tuhannya dikala subuh nanti.

Tak berselang lama, apa yang ditunggunyapun datang. Suara adzan subuh mengalun merdu dari corong-corong mushola dan masjid. Suaranya saling bersahutan memecah keheningan pagi. Dengan wajah segar karena mandi dan basuhan air wudhu, dia menyuruh anak-anaknya untuk segera ke mushola untuk menunaikan sholat subuh. Tak ketinggalan diapun ikut mendampingi anak-anaknya pergi ke mushola.

Sholat subuh selesai dilaksanakan. Dia dan anak-anaknya bergegas kembali ke rumah. Sementara di rumah sudah menunggu suami dan ibunya yang memang belum diberi hidayah untuk mau melakukan ibadah. Apa boleh buat. Itulah kuasa-Nya. Dia tidak bisa memaksa suami dan ibunya untuk ikut beribadah bersama di mushola. Walau dalam hati kecilnya, dia berharap semua anggota keluarganya bisa beribadah bersama di mushola belakang rumahnya.

Pintu warung mulai di buka. Di meja sudah tersusun rapi sajian untuk sarapan pagi. Satu persatu langganan mulai datang. Dengan sifat yang lembut dia melayani semua pembeli dengan sama rata. Tidak membedakan tetangga ataupun bukan. Karena dia menganggap semua yang datang adalah saudara. Sehingga harus diperlakukan secara sama, agar tidak timbul rasa iri dalam diri mereka. Sementara dia melayani mengambilkan nasi, anaknya yang paling tua membantunya membuatkan minumnya. Di luar warung tampak anak-anaknya riang membantu bersama-sama mencuci gelas dan piring yang kotor. Sedang di dapur, suami dan anaknya yang ke empat masih sibuk menggorengtempe.

Dalam waktu yang tidak begitu lama, dagangannya sudah hampir habis. Kini semua anak-anaknya bersiap untuk melanjutkan aktifitas lainnya.Adayang bersiap-siap berangkat kerja, ada yang bersiap-siap pergi kuliah, ada juga yang bersiap-siap pergi ke sekolah. Terlihat anak-anaknya berjajar rapi untuk pamit dan meminta restu serta uang saku. Dengan senyuman khas dia ulurkan tangannya untuk dicium oleh anak-anaknya secara bergantian. Tidak ketinggalan dia juga mengulurkan uang saku untuk anak-anaknya yang masih bersekolah.

Anak-anaknya sudah pergi untuk malakukan aktifitas selanjutnya. Kini di rumah tinggal dia, suami serta ibunya. Dagangannya sudah habis, tapi tidak berarti tugas sudah selesai. Kini tugas selanjutnya sudah menanti. Tugas untuk menjemput rejeki bersama suami dijualan yang kedua di siang hari. Dengan wajah yang tak begitu cantik, namun menyejukkan dia lakukan semua ini. Dengan raut muka yang tidak begitu manis namun meneduhkan, dia jalani ini dengan ikhlas hati. Dan dengan riang hati dia jalani hari-hari bersama sang suami. Serta dengan keteguhan hati dia menjemput rezeki di warung depan rumahnya sendiri. Semua ini dia jalani tanpa beban. Hanya ada satu harapan dalam benaknya. Harapan untuk bisa memberi yang terbaik untuk anak-anaknya. Dialah ibuku. Ibu yang melahirkan ketujuh anaknya. Ibu yang mengajariku makna ikhlas. Ibu yang mengajariku rasa syukur. Ibu yang mengajariku caranya mengasihi dan menyanyangi. Ibu yang jgua mengajariku apa itu cinta sejati. Ibu yang menginspirasiku tentang sosok kartini dalam pandanganku.

“Selamat hari Kartini, semoga kartini-kartini sekarang lebih bisa menghargai dirinya sendiri, dan tidak terjebak dalam persepsi yang salah tentang pemikiran Kartini”

Kupang, 21 April 2011 / 18 Jumadil Awal 1432H

Advertisements

3 Responses to Kartini idolaku

  1. Iksa says:

    Selamat Kartini juga ….

    kangto
    makasih pak iksa sudah mampir

  2. molen pisang says:

    kang to, salut ama tulisannya.. happy bloging ya..
    Ibu memang selalu menjadi wanita idola,

    btw ane mr.i di forum perbendaharaan

    tukeran link yuk om.. mampir ya ke blogku..

    kangto
    Sip. salam kenal im
    monggo, tapi ane blum bikin blogrollnya nih.

  3. MeyLi says:

    ehhmmm..,,haru, menginspirasi, tersentuh, terenyuh dan terakhir terisak. jadi kangen ibuku..hikszz..
    Btw, good Job^_^

    Makasih cik Mey, semoga kelak dirimu jadi ibu yang baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: