Diakah belahan jiwaku

Aku adalah seorang karyawan swasta di salah satu perusahaan suplier di kota yang jauh dari kota asalku. Aku bersama dengan satu orang temanku bertugas mengantarkan barang ke tempat konsumen yang membutuhkan barang-barang dari perusahaan kami. Sudah satu tahun, aku dan temanku ini bekerja di sini. Selama itu pula aku dan temanku mulai mengenal banyak orang. Baik pria ataupun wanita. Namun selama itu pula aku belum bisa mengingkari hati. Padahal tak jarang konsumen kami adalah wanita-wanita muda yang memulai usaha kecil-kecilan dengan membuka warung di kampungnya.

Lain cerita dengan temanku. Baru satu tahun di kota ini, dia sudah tiga kali berganti pacar. Padahal di kota asal kami, dia sudah punya wanita idaman. Tapi tetap saja mencari yang lain, untuk mengusir sepi katanya. Namun yang bikin aku heran, hubungannya dengan wanita idaman di kampung tetap lancar-lancar saja. Tak ada pertengkaran di antara mereka. Malah tampak terlihat mesra ketika mereka sedang bertukar kabar melalui telepon.

Balik lagi pada diriku. Selama aku berada di kota ini, serasa separuh jiwaku masih tertinggal di kota asalku. Dialah Fitri Nuraini yang telah mengurung hatiku dalam belenggu cintanya. Wajahnya yang cantik dengan kulitnya yang putih bersih, membuat setiap pria jatuh hati jika melihatnya. Salah satunya adalah diriku. Bermula saat aku selesai mengumandangkan iqomah. Tanpa sengaja menoleh kebarisan wanita. Disitulah wajah putihnya seolah bersinar dan terekam dalam mataku yang secara otomatis mengirimkannya ke otak. Sehingga dalam hitungan detik, sudah tersimpan dalam memoriku dan selanjutnya menjalar meracuni hatiku.Aku tak kuasa menahan apa yang ada. Sungguh wajahnya selalu membayangi dimanapun aku berada. Hingga aku bertanya-tanya. Apakah ini yang namanya cinta? Namun hati dan nuraniku tak bisa menjawabnya. Hanya rasa ingin jumpa yang selalu hadir melanda. Hingga menjadi kebiasaan untuk selalu menengok kebarisan wanita jika selesai mengumandankan iqomah. Namun selama aku mencoba, selama itu pula dia tidak tampak oleh pandangan mata. Sampai akhirnya timbul pertanyaan, dimana gadis pujaan hati itu berada.

Hari demi hari kulalui, namun dirinya tak muncul juga. Kucoba mencari informasi tentangnya. Namun kebanyakan dari temanku tak ada yang mengetahuinya. Hingga akhirnya aku beranikan diri untuk datang kerumahnya. Kebetulan saat itu ada undangan rapat anggota remaja mushola. Akupun tak menyiakan-nyiakannya. Dengan semangat yang membara, aku dan temanku sesama angota remaja masjid melangkah menuju rumahnya. Rumahnya tampak megah dengan pagar mengelilinginya. Terlihat pagar besi berdiri tegak di depan rumahnya. Rumahya terlihat sepi, berkali-kali aku membunyikan bel yang terpasang di pagar rumah. Selama itu belum juga ada tanda-tanda penghuni rumah akan muncul menemui kami. Setelah bel yang ketiga, barulah ayahnya yang merupakan orang terpandang di kampung kami, keluar menemui kami dan mempersilahkan masuk.

Di teras rumah, kami berbincang dan mengemukan maksud kami. Pak Ali yang merupakan ayah dari Fitri Nuraini, begitu ramah memperlakukan kami. Setelah dia baca surat undangan itu diapun berkata “maaf ya dik, sepertinya Fitri Nuraini ga bisa ikut rapat ini”. “kepana pak?, apa dia sakit?” tanyaku penasaran. “Tidak! dia tidak sakit. InsyaAllah dia sehat walafiat. Tapi sekarang dia sedang tidak ada di rumah.” jawab pak Ali menjelaskan. “kemana pak?” tanyaku semakin penasaran. “Sudah sebulan lalu dia melanjutkan kuliah di Semarang, dan biasanya kalau liburan semester baru pulang.” jawab pak Ali menjelaskan kembali. Ada rasa kecewa dalam diriku mengetahui gadis pujaan hati tak ada lagi di sini. Minimal sampai lima bulan mendatang.

Setelah maksud kami tersampaikan dan rasa penasaranku terjawab, kamipun pamit untuk membagikan undangan kepada teman yang lain. Semenjak itu, hari-hariku dipenuhi dengan penantian yang tak pasti. Menanti apa yang belum jelas bagi hati. Menanti jawaban atas pertanyaan yang belum pernah aku lontarkan. Lucu memang. Namun itulah kenyataan kawan. Jika hati sudah berperan, logika tak sanggup lagi meredamnya.

Sebulan berlalu, tawaran kerja di kota orang datang. Temanku Tono yang membawa kabar itu. Kebetulan dia dapat informasi dari temannya yang sudah lebih dulu kerja di sana. Sebenarnya malas juga kerja di kota orang, karena aku tidak akan bisa sering-sering bertemu keluarga. Dan yang lebih menyakitkan aku, tidak bisa menunggu gadis pujaanku dia mushola kampungku. Namun berkat bujukan Tono serta keluarga, akhirnya akupun terima tawaran itu. Alhamdulillah, aku dan Tono diterima kerja, setelah menjalani serangkaian test masuk kerja.

Aku dan Tono berada dalam devisi yang sama, yaitu devisi distribusi. Kebetulan wilayah distribusiku daerah kota. Jadi bisa lebih cepat mengenal sisi-sisi kota Lasem ini. Kerjaku enam hari kerja, dengan hari minggu sebagai hari libur. Dengan hari kerja demikian, tak mungkin rasanya pulang setiap minggu. Maka aku dan Tono memutuskan paling tidak sebulan sekali baru pulang. Karena jarak tempuh Lasem – Pati yang memakan waktu kurang lebih 3 jam sekali jalan.

Hari-hari kulalui. Satu bulan setelah kerja, aku pulang kampung untuk menjenguk keluarga di kampung. Namun di kampung tak kujumpai gadis pujaanku. Begitu juga dengan bulan ke-2 dan ke-3. Tapi berbeda ketika pulang di bulan ke-4 aku kerja. Di mushola kampungku, kutemui lagi pancaran sinar wajah itu berada di antara wajah-wajah yang lain. Sekali lagi hati ini berdesir. Tak sanggup rasanya diri untuk mengangkat kepala hanya sekedar melihatnya. Mulutpun terasa kaku, terkunci rapat, tak bisa mengeluarkan kata. Hanya detakan jantung yang semakin kencang terasa.

Dua kali sudah aku menatap wajahnya, dua kali pula aku tak kuasa untuk menolaknya meracuni hatiku dengan cintanya. Inikah rasanya cinta? benarkah dia belahan jiwaku? setidaknya itu yang hingga saat ini selalu mengganggu jiwaku.

Kupang, 17 Jumadil Awal 1432H

Advertisements

2 Responses to Diakah belahan jiwaku

  1. Iksa says:

    Halah kapan kesampaiannya nih …
    Maju terus ..

    Salam …

    ps: Lasem enak enggak sih?

    kangto
    nanti pak, belum dapet inspirasinya.
    Lasem, belum tahu pak. soalnya belum pernah tinggal di sana

  2. Eko Dwiyanto says:

    mantap ini baru beda…

    ketika jiwa sosok wanita merasuk ke dalam aliran darah dan kadang2 meracuni sistem kerja otak dalam bidang logika, terkadang ada rasa hangat memenuhi ruang2 hati.Kemdian rasa semangat yang menggerakkan sendi2 yang belum pernah bergerak sebelum nya.

    lalu maka biarkan jiwa itu mencari penawar nya dari sang sosok itu hingga tercapai kesempurnaan jiwa seorang adam sebagai makhluk yang terkodrat untuk ditemani sosok wanita, istri yang sholehah dan dapat menerima secara ikhlas keberadaan kita sejak awal tentu nya.

    Bagaimana mengetahui ikhlas nya, rasakan saja pada tiap hembusan nafas nya ketika sedang bertutur sapa…

    kangto
    wah berat bahasanya om
    but top markotop komennya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: