Senja yang membawa bahagia

Matahari sore mulai beranjak turun. Semilir angin menggoyangkan seluruh tanaman padi yang mulai menguning. Burung pipit beterbangan kesana kemari. Mendengar terikan serta kibasan bendera plastik sang penunggu sawah. Berkali-kali terlihat burung pipit beradu cepat dengan sang penunggu sawah. Terikan sang penunggu sawah serta kibasan bendera plastiknya saling bersahutan. Membentuk sebuah simponi nada tanpa kata. Tak terasa matahari semakin turun. Terlihat tepat berada di atas pohon tebu yang mulai berbunga di ujung barat sana.

Di gubuk ini. Ditemani segelas teh dan juga singkong goreng, aku masih setia menanti. Menanti janji yang telah kau ucapkan seminggu yang lalu. Janji untuk bertemu menikmati indahnya senja di sore hari. Dengan harapan yang masih tersimpan, kucoba menikmati teriakan sang penjaga sawah yang sedang mengusir serbuan burung pipit di tanaman padinya. Kicauan burung pipitpun masih sering terdengar. Sesekali kawanan burung itu hinggap di tengah-tengah pepadian. Dengan sigap sang penunggu sawah berteriak keras seraya mengibas-ngibaskan  bendera plastik.

Hari semakin senja. Dirimu yang kutunggu tak kunjung datang. Pudar sudah harapan yang ada. Dengan hati yang kecewa, kucoba menikmati hangatnya teh yang tersisa. Kurasakan hambar saat teh itu masuk membasahi kerongkonganku. Sehambar hatiku yang tak bisa menikmati indahnya senja bersamamu. Dengan langkah lelah sang penunggu sawah datang menghampiriku dan menyeruput teh hangat lalu dilanjutkan dengan mencomot pisang goreng.

“Kang! kok nampak tidak bersemangat begitu! ada masalah?” tanya sang penunggu sawah yang tak lain adalah Sono. Teman sekolah dan teman sepermainanku.“Ga ada sih, Cuma lagi nunggu si Vivi, tapi sampai sekarang ga datang-datang juga.” jawabku lemas sambil mengarahkan pandanganku ke wajah Sono yang kelihatan lelah.

“Vivi anaknya pak Sholeh itu?” jawab Sono tampak tak percaya mendengar jawabanku.

Memamg selama ini Vivi sangat terkenal jarang sekali bergaul dengan anak-nak kampungku. Mungkin karena dia berasal dari orang berada jadi, anak-anak kampungku merasa minder dan sungkan untuk main bersamanya.

“Iya…. Memang kenapa kok tampak kaget begitu?” jawabku kembali melempar tanya kepada Sono.

“Ya….heran aja. Kok bisa-bisanya kamu janjian ketemuan sama dia. Kan kamu tahu sendiri, dia bukan orang sembarangan! kita aja berani main ke rumahnya waktu lebaran, tapi kamu malah mengajaknya ketemuan di sawah. Hebat kamu kang! salut aku.” jawab Sono menjelaskan.

“Itu kan kalian. Kalau aku kan beda. Makanya rajin-rajin sholat jama’ah dan ikut pengajian di mushola. Biar ga ketinggalan informasi. Memang dia jarang ngumpul dengan kita-kita di luar pengajian atau urusan remaja masjid . Tapi kalau urusan remaja masjid dan pengajian, dia ga pernah absen.” sindirku kepada Sono yang memang jarang ke mushola untuk sholat berjama’ah.

“Ah….si akang bisa aja. Kan akang tahu sendiri, aku sibuk ngurusin sawah. Paling cepat pulang dari sawah jam enam sore. Mandi, sholat maghrib, makan, lanjut sholat isya’, abis itu istirahat. Mana sempat aku ikutan pengajian di mushola kalau seperti ini kang!” jawabnya membela diri.

“Ah..itu kan alasan kamu saja. Kalau kamu punya niat dan kemauan pasti bisa lah ikutan sholat jama’ah di mushola. Ingat! urusan kita bukan hanya urusan dunia semata. Jangan sampai urusan duniamu, akan menyeretmu masuk ke nereka karena melalaikanmu dari urusan akhirat.”

“Ah masak sih kang?” jawabnya tak percaya

“Benar. Kalau ga percaya tanya saja sama pak Ahmadi.” jawabku merujuknya untuk bertanya kepada imam mashola.

“Ah, si akang. Ke mushola aja jarang, ini malah si suruh tanya langsung sama pak Imam mushola. Mana berani aku kang!”

“Balik lagi kemasalahmu kang! kok akang janjian sama si Vivi di sini! Mau pacaran ya?” goda Sono sembari menyelidik.

“Siapa yang pacaran.! Kita cuma mau bertukar pikiran saja kok. Sebentar lagi dia kan mau lanjutin kuliah. Jadi minta referensi dariku.” Jawabku menjelaskan setenang mungkin. Walau sebenarnya di dalam hati ada benih-benih cinta yang menyelinap.

“Ah masak sih?” goda Sono kembali

“Iya benar.” jawabku kembali.

“Kalaupun pacaran juga ga apa apa kok kang. memang cocok kalian berdua. Satunya anaknya pintar dan rajin beribadah. Sedang kamu kang, selain rajin ke mushola juga ramah dan gampang bergaul. Kurang apa lagi coba?” jawab Sono mencoba menggoda

“Ya… kurang persetujuan orang tua saja. Hahahahaha.” tawaku lepas menjawab pertanyaan Sono.

“Hahahaha. Bener kang, bener banget! Jadi kapan nih diresmikan. Hahahahaha.’ timpal Sono sembari terkekeh-kekeh.

“Hush! jangan keras-keras. Nanti banyak yang dengar dikira beneran lagi.” jawabku mencoba menenangkan Sono yang sedang tertawa terbahak-bahak.

“Kalau memang beneran kan ga apa-apa.” jawab Sono menggoda

“Sudah-sudah. Sudah petang nih. Aku harus pulang untuk siap-siap ke mushola. Jangan lupa Son, aku tunggu di mushola ya!”

“InsyaAllah Kang.” jawab Sono sembari mengemasi perbekalan yang dibawanya.

Matahari sore semakin turun. Semburat kuning kemerah-merahan memancar di angkasa. Sono pun terlihat mulai berkemas. Gerombolan burung pipit yang beterbangan di atas tanaman padinya pun sudah tak dihiraukan lagi. Akupun membantu membereskan piring tempat kue serta gelas teh yang menjadi teman setia Sono selama menjaga sawah. Rasa sedih karena tak berjumpa dengan Vivi telah sirna. Kini ketenangan dan  kebahagiaan yang mengisi hatiku karena gelak tawa yang Engkau hadirkan melalui Sono sang penjaga sawah. Dengan diiringi sinar kemerahan sang mentari, aku dan Sono beranjak pergi. Meninggalkan sawah tempat Engkau memberikan rejeki, menuju rumah yang menjadi surga kami di dunia ini. Semoga keberkahan dan kebahagiaan selalu menghampiri kami.

“Ya Allah Ya Robb. Begitu Maha Segalanya Engkau. Karena hanya Engkau yang bisa membolak-balikkan hati dalam sekejap saja.”

 

Kupang. 10 Jumadil Awal 1432H

Advertisements

One Response to Senja yang membawa bahagia

  1. giewahyudi says:

    Senja yang indah, semoga setiap senja selalu membawa bahagia dalam jiwa..

    kangto
    amiin….
    makasih dah mampir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: