Mandi dengan air kotor

Sholat maghrib baru saja selesai dilaksanakan. Imam dan makmun terhanyut dalam dizkir bersama. Alunan kalimat tasbih, tahmid, takbir dan tauhid mengalun merdu disela-sela bibir mereka. Aku, Tono dan Tejo pun ikut terhanyut dalam alunan dzikir. Seperempat jam sudah dzikir bersama berlangsung. Akhirnya sang Imam menengadahkan tangan untuk memimpin do’a bersama. Tak begitu lama do’a yang dipanjatkan sang Imam pun selesai. Seperti biasanya kita lalu saling bersalam-salaman untuk meminta maaf.

Aku, Tono dan Tejo, bergeser dari tempat kami semula untuk segera melaksanakan sholat sunnah ba’diah. Sholat sunnah selesai dilaksanakan. Kini, kami bertiga duduk-duduk santai di teras mushola sambil mendengarkan suara teman-teman yang sedang mengaji. Damai, teduh dan tenang suasana petang ini. Di angkasa sudah tampak beberapa bintang menghiasi cakrawala. Sementara sang bulan masih malu-malu untuk menampakkan keindahannya.

Kami bertiga duduk berjajar di teras mushola. Sembari menikmati keindahan malam yang mulai tampak, Tono beseloroh pelan melontarkan pertanyaan padaku.

“Kang, kenapa sih kang kita harus sholat dalam keadaan suci dan cara yang benar?”

“Wah, berat nih pertanyaannya.” jawabku sembari meluruskan kaki

“Iya susah nih jawabannya.” imbuh Tejo pelan.

“Coba kamu Jo, jelasin sama Tono. Kan kamu yang lebih rajin ngaji daripada kami.” jawabku meminta Tejo untuk menjelaskan.“Aduh… gimana ya Kang!, susah Kang!.” jawab Tejo serasa menyerah

“Ayolah Jo! Aku juga ingin tahu dan mengerti seperi kalian.” bujuk Tono kepada Tejo agar mau menjelaskan.

“Ya sudah kalau begitu.” Jawab Tejo pelan. Sembari membenarkan posisi duduknya, tejopun mulai menjelaskan.

“Sepanjang yang saya tahu. Rasulullah pernah bersabda “Sholatlah kalian sebagaimana aku sholat.” jadi, sholat kita itu harus merujuk pada sholat Rasulullah. Dari mulai niat, tatacara dan bacaan sholat, harus sesuai dengan yang Beliau lakukan. Tidak boleh menambah apalagi mengurangi.”

“Lalu, bagaimana kita tahu kalau sholat kita sudah sesuai dengan sholatnya Rasulullah? Kan kita ga pernah tahu ketika Beliau melakukan sholat.” tanya Tono kembali sembari menggeser posisi duduknya mengerah ke Tejo yang berda di samping kirinya.

“Kan banyak hadist-hadist dan kitab-kitab yang membahas tentang hal ini. Tinggal kita cari saja hadist dan kitab yang shohih tentang masalah ini.”

“O… gitu ya?” jawab Tono sambil manggut-manggut menandakan dia sudah mengerti

“Kalau pakaian dan tempat untuk sholat, kenapa harus bersih dan suci Jo?” tanya Tono kembali.

“Wah tambah berat ini pertanyaannya.” jawab Tejo sambil menoleh kepadaku.

“Sudah jawab aja Jo, kemarin kan sudah dikasih tahu ustadz Yadi.” pintaku kepada Tejo untuk menjawab lagi.

“Iya, ayo Jo…keburu Isya’ nanti.” bujuk Tono kembali kepada Tejo agar segera menjawab pertanyaannya tadi.

“Ya sudah…” jawab Tejo pelan sembari membenarkan letak kopiahnya.

“Gini, dalam ajaran Islam sangat menjaga tentang kesucian. Itu kenapa dalam kitab Fiqih bab pertama yang dibahas adalah bab Thoharoh. Tentang bersuci. Kita semua tahu bahwa Allah itu Maha Suci, jadi barang siapa yang mau menghadap kepada-Nya juga harus dalam keadaan yang bersih dan suci. Memang kita bisa menyebut nama-Nya dalam keadaan berdiri, duduk ataupun berbaring. Tapi untuk sholat yang merupakan interaksi langsung dan merupakan wujud ketundukan kita kepada-Nya kita diwajibkan untuk melaksanakannya dalam keadaan yang suci dan di tempat yang suci.” jelas Tejo dengan detail.

“Benar kan Kang.?” tanya Tejo kepadaku.

“Tidak salah lagi. Bagaimana Ton! Sudah mengerti belum?” tanyaku kepada Tono

“Sudah sih Kang, tapi masih sedikit bingung.” jawab Tono yang kelihatan masih sedikit bingung.

“Bingung bagaimana?” tanyaku lagi kepadanya

“Ya bingung aja, kenapa harus dalam keadaan suci dan benar pelaksanaannya.” jawab Tono kembali

“Ya sudah kalau begitu.! aku coba jelaskan dengan logika orang awam aja. Siapa dengan begitu kamu bisa lebih mengerti. Bagaimana mau ga?” tanyaku kepada Tono

“Kalau memang itu bisa membuatku lebih mengerti kenapa tidak.!” jawab Tono sedikit bersemangat.

“Sip. Begini aku mau tanya sama Ton.”

“Iya kenapa Kang?”

“Seumpama nih, kamu mandi dengan cara berendam di dalam bak mandi yang terisi dengan kotor. Apa badan kamu menjadi lebih bersih dari sebelumnya?” tanyaku kepada Tono.

“Ya gak lah, bagaimana mau bersih! lah air yang dipakai aja air kotor, bagaimana mau bersih. Lagian caranya juga salah, kenapa berendam? Harusnya diguyur dari atas sampai bawah kan lebih baik. Lebih bisa melunturkan kotoran yang menempel.” jawab Tono menjelsakan.

“Begitu juga dengan sholat.” jawabku singkat

“Kok bisa Kang?” tanya Tono dan Tejo bersamaan.

“Hakikat sholat selain kewajiban setiap muslim dan wujud ketundukan kita pada-Nya, sholat juga bisa mencegah perbuatan keji dan munkar (Inna sholata tanha ‘anil fahsya iwal munkar). Jadi jika tata cara dan rukun sholat terlaksana dengan baik dan benar maka diri kita akan terhindar dari perbuatan keji dan munkar. Tapi jika sebaliknya, tata cara sholat kita salah, rukun sholat tidak terpenuhi, ya ibaratnya kita mandi dengan cara berendam di dalam bak mandi yang terisi dengan air kotor. Jadi diri kita tidak akan jadi bersih malah akan tambah kotor karena kotoran yang ada dalam air kotor tadi ikut menempel dalam tubuh kita.” jawabku mencoba menjelaskan.

“Iya..ya…benar juga Kang.” jawab mereka berdua sambil manggut-manggut.

“Allahuakbar……. Allahuakbar”

“Allahuakbar……. Allahuakbar”

…..

…..

Adzan sholat isya’ berkumandang. Kami bertigapun beranjak dari tempat duduk kami, dan masuk ke ruangan utama mushola untuk melakukan sholat isya’ secara berjama’ah.

Kupang, 4 Jumadil Awal 1432H

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: