Keluhan si Yono

Malam ini suasana warung kopi mas Eko tidak terlalu ramai. Di malam minggu ini, belum banyak anak muda yang nongkrong di sini. Aku, Tono dan Yono duduk di kursi di samping warung dengan meja bulat di depannya. Warung kopi yang terletak di depan rumah sang pemilik itu tampak artistik. Dinding yang tersusun dari belahan bamboo tersusun rapi, dengan jendela yang dibiarkan terbuka tanpa kaca, serta atap dari genteng biasa menampakkan keindahan warung khas desa.

Aku memesan secangkir kopi susu sedang Tono dan Yono lebih memilih menikmati secangkir kopi lelet. Kopi lelet. Kopi yang memang menjadi andalan dari warung ini. Aku sendiripun kurang tahu kenapa dinamakan kopi lelet. Memang sih, aku belum menanyakan kepada penjualnya, walau sudah sering nongkrong di warung ini. Tapi apapun sejarahnya yang jelas kopi ini memang sangat nikmat, berbeda dengan kopi-kopi biasanya.

Rintik hujan mengiringi kami bertiga dalam menikmati kehangatan secangkir kopi. Tak lupa, pisang dan bakwan goreng terhidang lengkap di hadapan kami. Tono dan Yono terlihat sedang menyulut rokok mereka masing-masing. Tak berselang lama, asap putih mengepul keluar dari mulut mereka. Seiring dengan keluarnya kepulan asap dari mulutnya, Tono pun berseloroh pelan.

“Ahh…nikmatnya hidup ini.” selorohnya pelan, sembari memainkan kepulan asap rokok di mulutnya.

“Iya bener banget. Baru kali ini aku merasakannya.” timpal Yono membenarkan

“Kalau mau, kita bisa menikmati hidup setiap hari.” kataku menimpali selorohan mereka

“Masak sih kang?!” tanya Tono tak percaya

“Iya benar.!” jawabku santai sembari menyeruput kopi susu yang masih panas

“Hmm..nikmatnya kopi ini.” lanjutku setelah seteguk kopi susu masuk ke dalam kerongkonganku.

“Masak sih kang kita bisa menikmati hidup setiap hari?” gantian Yono yang bertanya tak percaya.

“Iya benar.” jawabku pelan menguatkan argumenku sembari meletakkan cangkir kopi ke tempatnya semula.

“Aku kok ga bisa ya Kang! setiap hari aku harus kerja over time. Di sekolah aku pulang paling akhir. Sampai rumah aku juga ga bisa langsung istirahat, tapi harus lembur sampai tengah malam ngerjain perkerjaan yang tidak bisa terselesaikan di sekolah tadi. Begini nih, kalau jadi orang yang dipercaya sama atasan, sepertinya setiap pekerjaan hanya aku yang bisa menyelesaikannya. Tak hayal urusan pribadiku sampai terabaikan. Huff… capek aku kang. Rasa-rasanya aku ingin ke luar dan cari pekerjaan lain yang lebih rilex.” cerocos Yono menjelaskan keadaan yang sedang dihadapi. Yono memang bekerja di bagian administrasi sebuah SMA Negeri di Kabupaten sini. Sembari merapatkan punggungnya ke kursi, dia menikmati rokoknya dengan menghisap dalam-dalam rokok yang ada di sela-sela jari telunjuk dan tengahnya. Yono pun terlihat menerawang jauh ke angkasa, mencoba mencari kedamaian di sana.

“Ya yang sabar….” pelan suaraku mencoba menguatkan yang di timpali Tono yang asyik dengan rokoknya

“Iya benar tuh yang di bilang Kang To. Yang sabar.” imbuh Tono mengomentari

“Sabar gimana!?” tanya Yono sambil kembali menegakkan duduknya dan memandangi aku dan Tono yang ada di hadapannya.

“Ya yang sabar, kali aja ini ujian untukmu.” jawabku ringan.

“Kurang sabar apa coba aku Kang! Sudah hampir lima tahun aku bekerja di situ, tapi tetap aja seperti itu. Selalu aku, dan aku yang menjadi tumbal dari semua pekerjaan yang ada di sekolah itu. Lihatlah diriku Kang! kau tau kan badanku dulu seperti apa!? Ga kalah sama badanmu yang agak gemukan. Tapi lihatlah sekarang Kang! 7 kilo Kang. 7 kilo berat badanku turun karena perkerjaan yang tak ada hentinya ini.” kembali cerocos Yono menumpahkan segala kekesalan yang selama ini dipendamnya, sembari berkali-kali menghembuskan kepulan asap rokok dari mulutnya.

Rintik hujan sudah tak terlihat lagi. Para pelanggan mulai berdatangan. Tak begitu lama halaman parkirpun tampak penuh dengan kendaraan roda dua. Terlihat Tono sedang asyik dengan pisang goreng yang mengisi penuh mulutnya. Yono masih tetap gusar dan kesal dengan apa yang sedang dihadapinya. Terlihat dia memutar-mutarkan rokok di sela-sela jemarinya sambil memandang jauh ke depan.

“Trus, sekarang mau kamu gimana Yon?” tanyaku pelan memecah kebisuan

“Aku!, harusnya kau juga tahu Kang, apa yang aku mau!” jawab Yono masih dengan memendam kekesalan

“Lah gimana aku tahu! sedang kamu aja ga pernah ngasih tahu!, iya kan Ton?” jawabku sambil bertanya kepada Tono yang masih sibuk dengan pisang gorengnya.

“Bbbeetull…apa yang Kang To bilang.” timpal Tono sembari menelan pisang yang memenuhi mulutnya.

“Yah kalian harusnya tahu kalau aku juga ingin seperti orang-orang. Bisa menikmati hari libur untuk bersantai dengan keluarga tidak seperti aku yang harus kugunakan untuk lembur. Aku juga ingin seperti Tono yang sudah punya anak dan istri serta seperti apa yang akan segera kau jalani Kang. Lihatlah Kang!, gara-gara sibuk dengan kerjaan sampai-sampai kehidupan pribadiku terabaikan. Orangtuaku sudah sering mengingatkan, tapi aku tak bisa memenuhinya. Perkerjaan dari atasan yang tak pernah kunjung berhenti, membuatku larut hingga lupa akan kebutuhanku. Aku ga bisa nolak pekerjaan yang diberikan atasan Kang!. Karena dia bilang kalau hanya aku yang bisa dipercaya, makanya hampir semua pekerjaan diserahkan padaku. Tak jarang juga, hal ini membuat teman-teman iri kepadaku. Aku bingung Kang!, Aku bingung harus bagaimana….!?”. katanya melemas sembari mengusap-usap mukanya dengan dua telapak tangannya. Seolah ingin menghapus kesedihan yang mulai terlukis di wajahnya.

“Sudah….sudah…yang sabar.” kata Tono pelan mencoba menenangkan Yono yang hampir tak kuasa meluapkan semua bebannya lewat tetesan airmata.

Sambil memperbaiki posisi duduk, kuambil nafas panjang mencoba mengendalikan rasa haru mendengar keluhan sahabatku Yono.

“Apa atasanmu sudah tahu akan hal ini?” tanyaku kepada Yono ingin tahu

“Belum Kang. Aku belum memberitahunya. Aku takut mengecewakannya.” jawab Yono pelan sembari menarik nafas panjang dan menyandarkan punggungnya di kursi.

“Kamu ini aneh Yon…bagaimana atasan kamu tahu! kalau kamu aja tidak memberitahu tentang keadaanmu kepadanya.”

“Itulah Kang!, aku takut mengecewakannya. Lagian kalau aku tidak mau melaksanakan tugas tambahan itu, kepada siapa dia akan mendelegasikannya.?” jawabnya memprotes

“Kan ada temanmu sekantor yang bisa mengerjakan tugas itu!.”

“Iya ada sih Kang. Tapi kan kata Bos hanya aku yang bisa dipercayainya.”

“Itu masalahnya. Kalau tidak memberi kesempatan, bagaimana kita tahu kalau orang itu bisa dan dapat dipercaya!”

“Trus, aku harus bagaimana Kang?” tanyanya lirih kepadaku

“Ya harus kamu kasih tahu.” jawab Tono memotong percakapan kami

“Kasih tahu siapa Ton.” tanya Yono kepada Tono

“Ya atasanmu lah. Bilang kalau tugas kamu sudah over load. Minta kepada beliau agar mempertimbangkan untuk mendelegasikan kepada orang lain. Bilang juga kalau dalam kerja kita ada SOP (standart operating procedure), ada tupoksi masing-masing, ada jobdesk masing-masing. Nanti kalau itu sudah di lakukan semua, pasti kerja akan terasa nyaman. Tidak ada lagi istilah pegawai kesayangan yang jadi anak emasanya si Bos.” jawabku menjelaskan komentar dari Tono.

“Tapi Kang!”

“Tapi apa?” jawabku menegaskan maksud Yono

“Tapi aku takut Kang.” jawabnya sembari menggesek-gessekkan kedua telapak tangannya sambil memandangiku dan Tono.

“Takut kenapa! Kamu kan ga salah! Apa yang kamu takutkan?” tanyaku kepadanya

“Nanti dikira aku tidak mampu melaksanakan tugas trus di blacklist Bos, gimana dong Kang?.” jawabnya mengungkapkan ketakutannya.

“Apa salah bawahan memberi masukan kepada atasan! Tidak kan?” tanyaku pada Yono

“Tidak salah Kang. justru itu baik untuk kemajuan organisasi.” jawab Yono pelan

“Kalau tidak salah kenapa musti takut!” potong Tono mencoba menegaskan

“Udah gini aja. Kamu masih ingin menata hidupmu atau tetap seperti ini. Tetap terkunkung oleh pekerjaan yang seharusnya bisa dilakukan orang lain?” tanyaku pada Yono menegaskan keinginan yang sesungguhnya

“Ya ingin segera menata hidup Kang.” jawabnya pelan

“Kalau sudah jelas ingin menata hidup, kenapa musti takut!. Semua itu ada resikonya. Memang awal-awalnya agak berat, tapi kalau sudah terbiasa, nanti juga lancar dengan sendirinya. Ingat, seribu langkah takkan bisa tercapai tanpa langkah pertama. Jadi apa yang kamu harapkan tak akan kamu temui, kalau kamu tidak membuat keputusan untuk memulainya.” jawabku menjelaskan

“O…gitu ya Kang? Siplah, semoga besok aku diberi kekuatan agar bisa menentukan langkah untuk menata hidup yang lebih baik lagi. Makasih Kang, Ton atas masukannya.” jawab Yono dengan seutas senyum harapan terukir jelas di mulutnya.

Malam semakin larut, tak terasa minuman kami hanya tersisa ampasnya saja. Pisang dan bakwanpun sudah habis tak tersisa. Hanya piring dan sisa-sisa tepung serta beberapa biji cabai yang menghias di atasnya. Akupun segera beranjak dari tempat duduk menuju ke warung untuk membayar apa yang kami nikmati tadi. Sementara Tono da Yono masih asyik dengan rokok masing-masing. Setelah selesai urusan bayar membayar, aku menghampiri mereka untuk pamit. Sementara mereka masih meneruskan obrolan mereka, aku beranjak pergi meninggal mereka menuju rumah yang letaknya tak begitu jauh dengan warung kopi ini. Dan semilir angin malam menemani setiap langkahku menyusuri jalanan menuju tempatku mengistirahatkan badan dan jiwa ini.

Kupang, 26 Robi’ul Akhir 1432H

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: