Ketika ujian-Mu menghampiri

Pagi itu mentari pagi hadir begitu dini, suasana di luar pun masih terasa sunyi. Hanya sesekali suara kendaraan bermotor yang melintas di depan rumahku, Kendaran yang bisa dihitung dengan jari, yang setia menyusuri jalanan kota ini. Dengan agak malas kucoba gerakkan tangan kananku. Kucoba mencari seseorang yang setia menemaniku, mengarungi hidup sejak pertama kali kuinjakkan kaki di rumah ini. Orang yang telah mengikat janji setia sehidup semati yang terjalin dalam ikrar suci pernikahan.

Lama aku mencari, namun tak kurasakan lagi dirinya di sampingku, akupun mencoba membuka mata ini, mata yang masih terasa berat akibat bergadang tadi malam. Perlahan kurenggangkan kedua kelopak mataku, mencoba mengenali keadaan sekitar. Sinar mentari yang menerobos dicelah-celah jeruji jendela kamarku, membuat mata ini enggan untuk segara tebuka. Samar-samar tampak banyangan hitam yang sedang mondar-mandir di depan pintu kamar.

Setelah mata ini benar-benar terbuka, baru kusadari, ternyata bidadari cantikku sudah sedari tadi mondar mandir menyiapkan semua keperluanku. Dia tampak begitu semangat mempersiapkannya. Selayaknya mempersiapkan keperluan suami untuk berjihad fisabilillah. Aku hanya bisa terdiam melihat kegesitannya itu. Tak ada sedikitpun gurat penyesalan dalam raut wajahnya.

Matahari mulai naik. Akupun sudah membersihkan diri dengan kesejukan air pagi ini. Kucek satu persatu semua keperluanku. Mulai dari pakaian kerja, baju sehari-hari, baju olahraga, sepatu kerja dan sepatu olahraga. Tak lupa aku juga membawa serta alat-alat olahraga dan alat-alat pancing, karena aku memang senang olahraga dan memancing.Setelah kurasa tak ada lagi yang tertinggal atau kelupaan, lalu kucoba mengecek barang bawaan istriku. Kuarahkan pandangan menuju ke semua sudut kamar, namun tak juga kutemukan barang-barang bawaan istriku. Pertanyaanpun muncul dalam benakku, “dimana dia mempersiapkan barang-barangnya?”.

Tak lama kemudian, dia masuk sambil membawa dua cangkir teh hangat, Teh hangat yang masih mengepulkan asap dan mengeluarkan aroma khas bunga melati. Dengan senyuman khas dia sodorkan secangkir teh kepadaku

“Ini mas tehnya diminum dulu” tawarnya sambil mengembangkan seutas senyum

“Iya terimakasih” jawabku sambil menyambut teh dan menyeruputnya.

“Gimana mas tehnya, Pas atau kurang manis?” Tanyanya kepadaku

“Pas, pas manisnya, seperti manisnya senyummu” godaku padanya

“Aaahhh…mas, bisa aja” jawabnya sambil tersipu malu

“Nggak, bener kok, malah lebih manis dari teh ini” godaku kembali

“Aaahhh…mas,” rengeknya sambil memukul bahuku.

“Eh iya, hampir lupa, kucari-cari dari tadi kok barang bawaanmu ga ada?”

“Iya mas, aku lupa bilang sama mas”

“Bilang apa”

“Hmmm, anu mas…”

“Anu apa?” tanyaku penasaran

“Alhamdulillah, aku hamil mas” jawabnya sambil menyiratkan rasa bahagia di wajahnya

“Alhamdulillah ya Robb. Terimakasih atas anugerah ini”, jawabku sambil menengadahkan tangan ke atas sebagai ungkapan rasa syukurku kepada-Nya.

“Udah berapa bulan dik?” tanyaku memaksa

“Dua bulan mas”

“Kok kamu baru bilang?”

“Iya maaf mas, aku juga baru tau tadi malam, pas mas pergi ke masjid. Tiba-tiba perutku terasa sakit dan mual-mual, langsung aja aku ke dokter Fira tetangga kita itu”. Jawabnya mencoba menjelaskan.

“Kenapa ga bilang tadi malam?” tanyaku kembali

“Pulang dari masjid, mas terlihat lelah, jadi aku pikir lebih baik pagi ini aja aku kasih tahu mas”.

“Ya udah kalau gitu”

“Trus mana barang bawaanmu”? tanyaku lagi

“Ya itu mas, kayaknya aku ga jadi ikut”.

“Kenapa?”

“Aku kan lagi hamil 2 bulan, kata dokter itu masih rawan-rawannya, ga boleh terlalu capek, apalagi perjalanan jauh”.

“Ya Allah ya Robb, betapa berat cobaanmu ini” keluhku kepada-Nya

“Ga usah terlalu dipikirkan mas, mas berangkat aja ke tempat yang baru, biar nanti aku tinggal bersama ibunya mas, sekalian aku ada yang jaga dan merhitiin kandunganku, kan ibunya mas sudah berpengalamanan tentang hal ini”. Jawabnya mencoba menguatkanku.

“Iya sih, tapi apa aku bisa meninggalkanmu sendiri menjaga kandunganmu? Di mana letak tanggungjawabku sebagai suami, kepala rumah tangga ini?” protesku kepadanya

“Iya aku mengerti posisi mas, tapi kan mas juga punya tanggung jawab sebagai abdi Negara, lagian aku di sini juga sama ibunya mas, jadi mas jangan kuatir”. Kembali kata-katanya mencoba menguatkanku

“Yah kalau menurut adik itu yang terbaik, apa boleh buat? smoga Allah memudahkan jalan kita menjalani ini semua”. Doaku kepada-Nya

“Amin ya Robb”, jawabnya mengamini doaku.

Dengan hati yang bimbang kucoba untuk menguatkan diri, menjalani titah Illahi, melalui SK mutasi, yang mengharuskan aku berpisah sementara dengan istri dan calon anakku nanti.

Mentari beranjak semakin tinggi, pertanda aku harus segera pergi, mengejar kendaraan yang akan mengantarku ketempat kerja yang baru. Inilah saat-saat yang sangat mengharukan bagiku. Dikala istriku sedang mengandung, saat itu pula aku harus melepasnya sendiri untuk menjaga dan merawat kandunganya. Ada rasa kasihan dan tak tega untuk melepasnya, namun panggilan jiwa untuk mengabdi kepada Negara harus tetep aku utamakan. “Ya Allah ya Robb, berilah hamba kekuatan akan segala peran yang aku terima, smoga Kau berikan keberkahan di dalamnya. Ya Allah ya Robb berilah istriku kekuatan serta kesehatan, agar dia bisa menjaga kandungannya hingga sampai waktunya tiba. Ya Allah ya Robb, smoga aku bisa menemaninya dikala dia berjuang mempertaruhkan nyawa guna melahirkan buah hati kami. Ya Allah ya Robb, dengan penuh kesadaran, aku sandarkan semuanya kepada-Mu ya Allah Ya Robb yang Maha Segala-galanya.” Doaku dalam hati saat kukecup kening bidadari cantikku yang sebentar lagi aku tinggalkan sendiri.

Dengan mobil carteran, akupun melaju meninggalkan kampung halaman. menuju tempat tugas baru, yang belum tahu sama sekali keadaannya. Hanya do’a dan harapan yang ada dalam pikiran, dan juga lambaian tangan dari istri tercinta yang menyertaiku larut dalam lajunya kendaraan besi roda empat ini.

 

Kupang, 18 Robi’ul Awal 1432H

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: