Pantaskah ku bersimpuh pada-Mu

Malam ini suasana sekitar lokalisasi Karang Dempel begitu gelap. Mendung hitam menyelimuti sebagian kota. Rintik hujan mengguyur bebatuan karang semenjak petang menjelang. Lalu lalang kendaraan menuju pelabuhan tak seramai biasanya. Kesunyian malam menerpa di salah satu kamar. Terlihat Ratna begitu khusyuk di atas sajadahnya. Tak seperti malam-malam biasa, malam ini dia sengaja tidak menerima tamu. Hanya tetesan airmata dan untaian do’a yang mengalir terus dari bibirnya.

“Ya Allah, telah banyak dosa yang aku perbuat dan betapa sedikit amal yang aku lakukan. Akankah aku menjadi kekasih-Mu” “Laailaha illa anta subhaanaka inni kuntu minadzhaalimiin.” “Ya Allah, tiada tuhan yang pantas disembah melainkan Engkau, sungguh Maha Suci Engkau, dan betapa dholimnya aku kepada-Mu.” Do’a Ratna sambil menitikkan air mata

“Ya Allah, pantaskah aku bersimpuh pada-Mu?! manusia hina yang salalu berbuat nista! “Laailaha illa anta subhaanaka inni kuntu minadzhaalimiin.” kembali untaian do’a yang mengalir dari mulut Ratna disertai tetesan air mata yang semakin deras.

Dengan bibir bergetar dan isakan tangis Ratnapun berdo’a kembali “Ya Allah, akankah Engkau mengampuni segala dosa-dosaku? Ya Allah…., ampuniii akuuuu….! “Laailaha illa anta subhaanaka inni kuntu minadzhaalimiin.”Tangannya masih menengadah dan gemetar, sementara bibirnya bergetar sambil terus berdikzir kepada-Nya. Air matanya mengalir tak terbendung, membasahi mukena yang dipakainya. Dingin udara malam tak dihiraukannya, dengan diiringi hembusan angin malam dan rintik hujan Ratna masih setia bersimpuh pada-Nya.

Malam semakin larut, rintik hujan belum juga reda. Isak tangis dan ceracau penyesalan serta do’a masih keluar dari mulut Ratna. Mulut yang dia rasa kotor dan hina. Mulut yang hampir semua laki-laki pernah merasakannya. Namun dengan mulut itu pula dia menyebut nama Tuhan-Nya. Tuhan yang menciptakannya, Tuhan yang selalu disembahnya.

***********

Sore itu secara tak sengaja Ratna mendengarkan ceramah seorang ustadzah di mushola dekat lokalisasi tempatnya berkeja. Masih terekam jelas dalam ingatannya, ketika sang utadzah dalam ceramahnya berkata “Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang sebanyak banyaknya. Dengan berdzikir, niscaya hati akan tenang.” Begitu kata-kata yang selalu membanyangi hati dan pikiran Ratna, ketika dia hendak memejamkan mata untuk melepaskan lelah setelah semalam sibuk melayani tamu yang datang.

Semenjak saat itu dia jadi sering mendengarkan ceramah sang ustadzah, walau hanya dari warung sebelah mushola. Ratna memang belum berani terang-terangan mengikuti pengajian sang ustadzah. Disamping karena rasa gengsi terhadap teman-temanya, diapun merasa malu untuk menginjakkan kaki di rumah Allah itu. Tanpa disadarinya, ternyata setiap kali selesai mendengarkan ceramah dari sang ustadzah,.terselip rasa damai diantara gundah gulana yang menghimpitnya.

Seiring berjalannya waktu, akhirnya timbul keberanian dalam diri Ratna. Keberaian untuk menanyakan kepada ustadzah akan semua keraguan dan gundah gulana yang selama ini dia rasakan. Seperti biasa saat dia sedang mendengarkan ceramah di warung sebelah mushola, tiba-tiba sang ustadzah sudah berada di warung itu juga.

“Assalamu’alaikum.” Salam ustadzah kepada penjaga warung

“Wa’alaikumsalam.” Jawab lirih penjaga warung dan juga Ratna yang juga berada di situ.

“Bu, tisunya satu.” Pinta ustadzah kepada sang penjual dengan lembutnya

“yang mana bu?” Tanya balik sang penjual sambil memperlihatkan dua buah tisu di tangannya.

“yang ini saja, berapa bu?” jawab ustadzah sembari mengambil tisu dari tangan penjual dan menanyakan harganya

“biasa, lima ribu.” Jawab penjual datar

“ini bu uangnya, terimakasih, Assalamu’alaikum.” Jawab ustadzah sembari menyodorkan uang limaribuan kepada sang penjual, diikuti ucapan salam pertanda mohon pamit.

“terimakasih bu, Wa’alaikumsalam.” Jawab sang penjual dengan senyum khasnya dalam melayani pembeli.

Beberapa langkah setelah ustadzah keluar warung, terdengar suara berat yang memanggilnya.

“Bu ustadzah, boleh saya bertanya?” terdengar suara dari seorang perempuan cantik, berhidung mancung yang duduk di depan warung dengan wajah tertunduk

“iya, silahkan dik, ada yang bisa saya Bantu.” Jawab sang ustadzah sambil menoleh ke arah asal suara. Sembari memasukkan tisu ke dalam tas tangan warna hitam yang ada di lengan kirinya, ustadzah mencoba memperhatikan gadis itu.

Dengan agak malu-malu dan takut Ratna mengutarakan pertanyaan yang telah lama dipendamnya.

“bisakah seorang pelacur mendapatkan ketenangan hidup dengan berdzikir?”

Tampak kaget dan terkejut sang utadzah mendapat pertanyaan seperti itu. Apalagi pertanyaan itu keluar dari sosok perempuan muda dan cantik.

“InsyaAllah bisa.” Jawab ustadzah tegas

“Walau pelacur itu sudah tak mengenal lagi Tuhannya?” Tanya Ratna lagi sembari mendongakkan kepala ke arah sang ustadzah.

“Iya, sekalipun dia sudah tak mengenal-Nya lagi. Asal dia mau bertobat dan kembali kejalan-Nya, niscaya Dia akan memberikan nikmat dan karunia-Nya.” Jawab ustadzah sedikit menjelaskan

“Apakah Allah juga akan mengampuni segala dosa-dosa pelacur itu?” Tanya Ratna kembali seraya menunduk menahan genangan air mata yang menggumpal.

Dengan mendekap Ratna dari samping, sang ustadzah berujar pelan. “percayalah dik, Allah itu Maha Pengampun, Maha Pengasih dan juga Maha Memberi, maka mintalah ampun kepada-Nya dengan tidak menyekutukannya, niscaya Dia akan memberikan Ampunan dan juga nikmat-Nya kepadamu.” Jawab ustadzah menyakinkan.

Sejak saat itu. Ratna, gadis cantik yang baru berusia 25 tahun, dengan rambut hitam lurus tergerai sampai bahu, dan wajah putih bersih itu mulai berbenah diri. Setiap malam selesai melayani tamu, dia selalu bersimpuh di hadapan-Nya. Meminta kekuatan dan petunjuk agar bisa segera keluar dari jerat kemaksiatan yang mengekangnya selama ini. Terbesit kayakinan dalam hati, bahwa suatu saat nanti, dia bisa lepas dari dunia hitam ini, dan menjadi wanita baik-baik. Wanita yang bisa menjaga suami dan anak-anaknya demi menunaikan amanah dari-Nya .

 

 

 

Kupang, 20 Robi’ul Akhir 1432H

 

Advertisements

One Response to Pantaskah ku bersimpuh pada-Mu

  1. aria kamandanu says:

    bagus boss tulisannya.. semoga saya tidak lagi pernah bertamu ke ratna..

    kangto
    Wah agan satu ini dah ga bisa ke sono lagi gan, pan udah pindah, hehehehe atau di sana ada Ratna-ratna yang lain? hehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: