Nikmatnya Berbagi

“Assalamu’alaikum. Kak, Aku ga bs sering2 ke At-Tin lg nih, coz aku lagi sibuk ngerjain skripsi. So kaka ja ya yang sering ke sana. Ntar kalau ada waktu aku sempetin ke sana juga. OK.”  Begitu sms yang aku terima dari Syafa’ saat aku sedang lembur di kantor sabtu siang ini.

Syafa’..gadis sederhana semester akhir di sebuah perguruan tinggi swasta di kota ini. Gadis yang sering bersamaku ketika ada kegiatan yang berhubungan dengan panti At-Tin.

Ingatan tentang Syafa’ ternyata mengantarku teringat akan adik-adik kami yang sedang berada di panti At-Tin. Anak-anak yang karena ketidakmampuan orangtua, sehingga mereka dititipkan di sana. Ada pula yang karena yatim bahkan yatim piatu.

Kamipun sudah menganggap mereka seperti adik kami sendiri. Senyum mereka adalah senyum yang tulus dari hati. Tawa riang khas yang selalu hadir dalam wajah polos mereka selalu menjadi kedamaian tersendiri bagi kami. Sesekali tangisan kecil juga menghias di tengah suara tawa. Keceriaan mereka memberikan kekuatan bagi kami. Mereka menjadi pelipur hati kami.“Kerjaan udah kelar. Jam baru menunjukkan pukul dua lebih sedikit. Kayaknya cocok nih untuk nengok adik-adik yang di At-Tin.” Gumamku dalam hati. Kebetulan Ari teman sekantor yang juga lembur, terlihat sudah beres-beres. Saatnya ku sampaikan maksudku.

“Ar, masih sibuk nih?” tanyaku basa-basi

“ga. kenapa?” jawabnya singkat

“kalau ada waktu ane mau minta tolong.”

“minta tolong apa nih? Beliin makan? Hehehe.” Candanya padaku

“ga gitu kali. Sebenarnya ane mo minta antum nemenin ane ke At-Tin, gimana bisa ga?” pintaku padanya

“kapan?” tanyanya lagi

“sekaranglah, masak abis lebaran?” jawabku sedikit tertawa

“ok deh, tapi ntar ya aku selesaiin ini dulu. Tinggal ngeprint doank.”

“Ok sip. Ane tunggu di bawah ya?” jawabku yang sudah bersiap-siap. Kebetulan juga kantor kami ada di lantai dua pada gedung lantai tujuh ini.

Dengan berboncengan motor, kita menyusuri jalan Eltari II untuk selanjutnya menuju ke panti At-Tin. Terlihat jalanan kota tampak lengang dibandingkan hari-hari biasa.

Sekitar setengah jam perjalanan akhirnya kita sampai di pelataran panti At-Tin. Terlihat beberapa anak sedang melakukan aktivas di teras masjid. Ada yang sedang belajar membaca Al-Quran, ada yang bermain secara bekelompok dan pula yang sedang sibuk menghafal Al-Quran. Seketika mereka berlarian ke arahku, begitu tahu aku berada di hadapan mereka. Mungkin kurangnya kasih sayang dari sosok seorang kakak, makanya mereka begitu girang jika rombonganku atau rombongannya syafa’ datang berkunjung.

At-Tin bukanlah hanya sekedar panti asuhan karena di dalam kompleks panti tersebut sudah terdapat Madrasah Ibtidaiyah. Jadi mereka ga perlu keluar panti untuk sekolah setingkat Sekolah Dasar. Namun bagi mereka yang sudah masuk SMP ataupun SMA harus sekolah di luar panti. Walau mereka tetep tinggal di panti untuk mengajari adik-adiknya. Baik dalam ilmu umum maupun dalam ilmu agama.

Adzan sholat ashar berkumandang membelah keriuhan anak-anak yang asyik bemain di pelataran. Terlihat ustadz Anwar pengurus panti ini mengingatkan mereka untuk segera mengambil wudhu. Tak ketinggalan aku dan Ari pun segera menuju tempat wudhu. Segarnya air wudhu menyejukkan wajahku yang kepanasan terkena terik mentari siang ini.

Sholat ashar berjamaah selesai didirikan. Kini aku, ustadz Anwar dan Ari, duduk bersama di teras masjid. Akupun bertanya tentang perkembangan panti dan anak-anak. Memprihatinkan memang, panti yang dipimpinnya ini belum ada donatur tetap yang bisa membantu mengembangkan panti ini. Namun aku salut kepada beliau. Di tengah keterbatasan dana, beliau tetap mampu menjalankan panti ini.

“Alhamdulillah dik, Allah itu Maha Kaya. Setiap kali kami kehabisan makanan, ada saja donatur yang datang dan memberi bantuan.” Jawab ustadz menanggapi

“Alhamdulillah, semoga panti ini semakin berkah. Trus jualan rotinya tetap jalan kan Tadz?” tanyaku padanya. Memang untuk menopang panti ini, ibu-ibu yang berada di sekitar panti membuat roti untuk selanjutnya dijual oleh anak-anak panti ke daerah sekitar panti. Keuntungan dari berjualan roti dibagi dua sama rata antara ibu pembuat roti dan pihak panti.

Sore itu tampak mendung menyelimuti cakrawala panti. Keriangan tetap terpancar dari wajah polos anak-anak panti. ada kedamaian yang kurasakan ketika melihat keceriaan diwajah mereka. Suasana seperti ini mengingatkanku kepada keluarga yang berada jauh di sana. Tanpa sadar butiran kristal jatuh menetes di pipiku. Seketika itu Ari yang tahu akan hal itu menegurku.

“kenapa antum nangis?” tanyanya padaku

“ga tau nih, tiba-tiba aku teringat keluarga di rumah.” Jawabku pelan sambil mengelap airmata yang menetes dengan ibu jariku.

“ya begitulah dik, kadang aku juga merasakan seperti yang adik rasakan. Kebetulan istri dan anakku juga ga tinggal di sini. Mereka memilih tetap di Alor untuk menjaga orang tuanya.” Kata ustadz Anwar menimpali percakapan kami.

“sebenarnya aku bingung tadz. Kenapa setiap aku datang ke sini, selalu ada kedamaian yang kurasakan?.” jelasku mengutarakan perasaanku

“akupun begitu kang, merasakan apa yang kau rasakan. Padahal kan kita kesini ga bawa apa-apa, tapi kenapa kita diberi ketenangan saat berada di sini??” Tanya Ari tak kalah bingungnya denganku.

“begitulah Allah. Allah yang Maha Mengetahui dan Maha Memberi. Betapa tidak? Allah tahu apa yang tersembunyi. Allah juga senang Memberi, meski kita tak memintanya. Seperti yang adik-adik rasakan ini.” Jawab ustadz Anwar atas pertanyaan kami.

Tak ayal kami pun semakin bingung dengan jawabannya itu. Sehingga tanpa komando, secara bersamaan kita melontarkan pertanyaan lagi.

“maksud ustadz?”

“gini ya dik, seperti yang telah di jelaskan pada Quran surat Al-Lail ayat 5-7

فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى (5) وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى (6) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى (7

5. Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, 6. dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), 7. Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. (QS:92. 5-7)

“Seperti dijelaskan dalam surat Al-Lail tadi, bahwa siapa yang bersedekah atas ketaqwaannya, maka Allah akan mudahkan jalannya. Lalu apakah hanya orang-orang yang punya harta saja yang bisa bersedekah? Tidak kan!! Kita yang tak punya hartapun bisa besedekah. Gimana caranya? Ya seperti adik-adik ini, secara tak disengaja adik-adik ini telah bersedekah dengan tenaga dan ilmu yang adik-adik miliki. Gimana tidak!. Disaat pemuda-pemuda lain sibuk dengan urusannya masing-masing, adik-adik bisa menyempatin diri dan meluangkan waktu untuk berada di sini memotivasi anak-anak panti sini. Maka Allah memberikan kemudahan kepada Adik-adik meraih ketenangan jiwa. Seperti yang ada rasakan saat ini.” Jawah ustadz Anwar menjawab kebingungan kami

“Subhanallah Maha Suci Allah, begitu besar Kuasa-Nya hingga apa yang tak terbesit dalam pikiran dan hati kamipun Dia Tahu. Smoga dengan pengetahuan ini tidak menjadikan kami lalai akan Nikmat-Nya. Terimakasih atas penjelasannya Tadz semoga barokah” Ucapku mengomentari penjelasan ustadz Anwar

“gimana Ar? Dah ga bingung lagi kan?” tanyaku kepada Ari

“Alhamdulillah, tercerahkan berkat penjelasan ustadz Anwar.” Jawabnya menepis kebingungan yang sempat hinggap tadi

“Alhamdulillah, smoga umat islam semakin banyak yang sadar akan nikmat dan indahnya berbagi kepada sesama. Ya sudah kalau gitu aku ke kantor dulu menyelesaikan tugas yang lain.” Ucap ustadz Anwar kepada kami

“sekalian aja tadz kami pamit, lain waktu kita ke sini untuk belajar lagi.” Ucapku menimpali ucapan ustadz Anwar.

“ya sering-sering aja kalian datang ke mari. Biar adik-adik kalian tidak kehilangan sosok seorang  kakak.” Jawab ustadz Anwar penuh harap.

“InsyaAlallah tadz. Kami pamit dulu Assalamu’alaikum” Jawab aku dan Ari bersamaan.

“wa’laikumsalam.” Terdengar jawaban dari ustadz Anwar.

Dipayungi awan mendung, kukendarai motor ini sambil membawa kedamaian di hati. Kedamaian yang tak pernah diduga dan disangka buah dari sedekah yang tak disengaja. Semoga saudara-saudara yang lain juga bisa merasakan kedamaian yang kami rasakan.

 

Kupang, 13 Robi’ul Akhir 1432H

Advertisements

One Response to Nikmatnya Berbagi

  1. Ndra says:

    At-Tin ki sing ndi Prap…??? Aku kok kayane rung pernah mrono ya…??

    kangto
    Itu panti di Kupang, arah ke pelabuhan Tenau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: