Kehendak-Nya

Siang ini panas mentari begitu terik. Hal itu yang membuatku mengurungkan niat menghabiskan waktuku di luar rumah. Ditambah lagi dengan kondisiku yang masih lelah setelah perjalanan tadi malam. Jadi, siang ini aku lebih memilih menikmati hari dengan duduk-duduk di pintu dapur sambil melihat bebek-bebekku yang mulai tumbuh.

“Tut..tuttt……tut..tuttt.” suara dering hpku pertanda ada sms masuk. Dengan gerakan sedikit malas kucoba mengambil hp yang berada dalam saku celanaku. Dalam hitungan detik hp itu pun sudah berada dalam genggamanku. Kucoba melihat ke layer hp untuk melihat siapa yang sms tengah hari seperti ini..

“Desy!! Ada apa ya??” pikirku setelah melihat nama yg tertulis dilayar hpku

“Gus, di rumah tho? maen ke rumah ya..ntar aku kenalin ma suamiku”. Begitu bunyi sms dari si Desy.

Dia memang sering memanggilku dengan sebutan Gus, akupun sebenarnya ga tau kenapa dia memanggilku Gus, padahal namaku Aryo bukan Agus atapun Bagus. Akupun selama ini tak pernah protes tentang panggilan itu. Lagian itu cuma panggilan bukan makian ataupun umpatan. So easy going aja, kalau ngikut istilah anak-anak jaman sekarang. Tanpa dikomando jari jemariku menari lincah, memainkan tuts yang ada di keypad hpku hingga tersusun kalimat :“Iya nih. Baru aja sampai tadi malam, InsyaAllah ntar sore aku maen ke rumah”. Begitu jawaban sms dariku

“OK, aku tunggu ya?” balasnya singkat.

“Sip!” begitu balasku tak kalah singkat.

Pukul 15.06 wib, mushola dekat rumahku mulai bergema mengumandang suara adzan pertanda waktu sholat ashar sudah tiba. Dengan agak malas aku beranjak dari tempatku berjalan menuju kamar untuk mengambil sarung dan peci. Sambil berjalan menuju kamar, kucoba bangunkan adikku yang sedang tidur di ruang tivi untuk sholat berjamaah di mushola. Dengan agak malas juga dia perlahan-lahan mulai membuka kedua matanya sambil terus mengeliat dia mencoba memandangi diriku yang berada di sebelahnya. Akupun masih tetap menggoyang-goyangkan tubuhnya agar segera bangkit dan mengambil sarung untuk selanjutnya berangkat ke mushola bersama-sama.

Di mushola, telah menunggu jamaah lainnya. Kebanyakan dari mereka terdiri dari nenek-nenek dan anak kecil. Jadi kayaknya aku nih yang jadi korban untuk mengimami mereka kalau imam mushola sampai ga datang. Dugaanku memang tak melenceng jauh. Setelah menunggu beberapa lama, imam mushola tak kunjung datang. Suara riuh dari bilik para wanita, menyarankan untuk segera iqomah. Akhirnya dengan terpaksa iqomahpun dikumndang. Ini artinya aku harus siap-siap jadi imam.

Sholat ashar akhirnya selesai didirikan dengan aku sebagai imamnya. Rasa takut, grogi, gemetaran dan demam panggung menghinggapi diriku. Sehingga kekhusyukan dalam sholat susah aku dapatkan. Akupun tak henti-hentinya membaca istighfar untuk mohon ampunan dan ketenangan kepada-Nya. Sejenak kucoba meresapki alunan istighfarku. Setelah beberapa saat lamanya akupun sudah bisa menguasai diriku lagi. Dzikir dan pujian kepada-Nya serta sholawat atas Nabi, mengalir lancar dari dirku dan jamaah lainnya. Sebagai penutup rangkaian sholat jamaah, akupun memimpin do’a bersama, dimana sering dilakukan oleh imam mushola ini.

Sepulangnya dari mushola, aku segera berbenah diri dan melihat motor beat kesayanganku sudah siap untuk mengantarku ke rumah Desy. Rumah yang terletak sekitar 3 km kearah selatan dari tempatku berada sekarang.

Motor beat ku laju pelan menyusuri jalan raya. Terlihat geliat ekonomi mulai tumbuh di kota ini. Terlihat dari banyaknya tenda-tenda makanan di kanan dan kiri jalan sebagai penghias jalanan. Sekitar lima belasan menit aku sampai di perempatan. Belum beruntung memang, begitu mendekali traffict light, lampu sudah berganti merah. Tapi lumayan juga bisa santai sejenak sambil melihat lalu lalang orang di sekitar.

Begitu asyiknya menikmati suasana tanpa sadar lampu hijau telah menyala. Suara klakson kendaraan dari belakang mulai berbunyi bergantian mengisyaratkan mereka diburu oleh waktu. Saatnya kubelokkan motorku ke kiri untuk menuju ke rumah Desy. Sekitar lima menitan aku sampai di depan rumahnya. Terlihat dia sedang mondar-mandir tanpa alas kaki, dengan perut yang agak membesar. “Alhamdulillah dia dipercaya Allah untuk merawat salah satu hambanya”. Bisikku dalam hati.

“Eh kamu tho Gus, aku kira siapa!! Pangling aku lihat dirimu yang makin gendut aja.” Sapanya ketika melihat aku turun dari motor dan melepaskan helm full faceku.

“Assalamu’alaikum.” Salamku kepadanya, walau sebenarnya kedatanganku sudah di ketahuinya, sengaja aku mengucapkan salam selayaknya seorang muslim mengucapkan salam saat bertemu dengan saudara seiman.

“Wa’alaikusalam.” Jawabnya sambil mendekati diriku

“Loh kok sendirian? Mana istrimu?” Tanyanya menyelidiki diriku

“Ah, kamu bisa aja, kan kamu tau ndiri kalau belum ada yang mau denganku” jawabku sambil tersenyum malu

“Yah aku kan gak tau!! abis sejak kamu pindah tugas jarang kasih kabar lagi sih!!” sambungnya menimpali jawabanku.

“oiya..mana suamimu? Katanya tadi aku mau dikenalin!!” tanyaku menegaskan maksud kedatanganku.

“kebetulan baru aja keluar!! katanya mau beli sesuatu di toko dekat simpang situ, paling bentar lagi juga pulang. Sambil nunggu kita masuk aja yuk?” pintanya kepadaku

“Kayaknya lebih enak di sini deh Des, sambil menikmati suasana sore.” Kilahku biar bisa sesekali mengenang masa lalu ditempat ini.

“Ya udah…kalau kamu lebih nyaman duduk diluar. aku ke dalam dulu ya..ambil makanan.” Jawabnya sambil nyelonong ke dalam rumah.

Ketika bayangan Desy hilang dari pandanganku, seketika itu pula pandanganku beralih ke alam sekitar rumah yang sudah tak asing lagi bagiku. Tempat yang dulu sering aku datangi walau hanya untuk sekedar bersilaturahmi. Tak banyak berubah memang, cuma ada beberapa rumah saja yang berganti catnya. Lamunanku pun buyar tatkala ibunya Desy menyapaku…

“Eh mas Aryo, sudah lama mas? tanyanya dari pintu rumah sambil jalan menuju ke tempatku duduk.

“Baru aja sampai bu!” jawabku pelan

“kapan sampai rumah?’

“sekitar jam 3 pagi tadi bu.”

“kok mudik ga pas hari raya mas? Ada acara apa nih?” tanyanya lagi kepadaku

“ga ada apa-apa kok bu…kebetulan ada tugas di Surabaya, jadi sekalian cuti.”

Tak lama kemudian muncul Desy dari dalam rumah dengan membawa nampan yang berisi beberapa toples kue dan tiga gelas minuman.

“ini dicicipin kue ma minumannya.” Pintanya sambil menyodorkan segelas teh hangat ke padaku.

“ayo mas dicicipin…pasti enak!! Desy sendiri loh yang bikin.” Suara ibunya Desy menimpali.

“iya makasih bu.” Jawabku sambil tersenyum

Sambil menyeruput teh hangat yang ada di hadapanku, ku perhatikan Desy yang sedang hamil lima bulanan itu. Terlihat dia membawa piring yang berisi nasi putih dan tempe mendoan saja. Sesekali diapun mengambil dan memasukkannya ke dalam mulutnya…

“lho Des..makannya kok cuma nasi putih ma tempe mendoan aja?” Tanyaku penasaran sambil meletakkan gelas minumanku

“Ini nih….bawaan si kecil.” Jawabnya polos

“Ya itu tuh…si jabang bayi sukanya minta macam-macam!! kemarin aja si Desy pengen dicariin sate kerang pagi hari. Mana ada!! Terpaksa deh suaminya yang keliling cari kerang di pasar, baru kita sate rame-rame.” Jawab ibunya mencoba menjelaskan.

“ah ibu, gitu kok diomongin, kan Desy jadi malu,” timpal Desy sambil merengek.

“ya gapapa, biar ntar kalau mas Aryo punya istri ga kaget saat istrinya hamil minta yang macam-macam. Ga kebayang kalau dulu Desy jadi sama kamu Yo, gimana kira-kira tingkah polah kamu nurutin kemauan anehnya Desy waktu hamil seperti sekarang ini.” Seloroh ibunya

Sontak selorohan ibunya mengagetkanku dan juga Desy yang mulai salah tingkah. Tanpa kuduga ternyata ibunya Desy masih meyimpan harapan itu sampai sakarang. Harapan agar aku dan Desy bisa bersatu dalam ikatan suci pernikahan.

“ah ibu, itu kan masa lalu, ga usah diungkit lagi.” Rajuk Desy sambil menundukkan kepala, seolah ada kekecewaan yang dia pendam.

“iya bu, itu kan harapan kita dulu. Tapi sekarang Allah berkehendak lain. Desy sudah punya suami yang terbaik buat dia dan ibu sekeluarga. Coba kalau ibu dan Desy masih berharap padaku, mungkin sekarang Desy belum juga hamil. Boro-boro hamil, nikah aja belum pasti.” selorohku mencoba mncairkan suasana.

“iya bu, bener tuh yang dibilang mas Aryo. Ga usah diungkit-ungkit lagi. memang sih, sekarang mas Aryo ga jadi menantu ibu, tapi kan mas Aryo masih bisa datang ke sini kalau dia lagi di rumah, iya kan Gus.” Tanyanya kepadaku

“pasti itu. Aku akan sempetin main ke rumah, nengok ibu kalau kebetulan aku pas ada di kampung. Lagian aku juga sudah menganggap ibu sebagai ibuku sendiri dan Desy sebagai adikku yang paling imut.” Jawabku sambil mencoba menggoda Desy

“ya udah kalau gitu, ntar kalau kamu nikah jangan lupa kabari ibu, dan sekali-kali ajak istrimu main ke sini untuk kamu kenalin ma ibu dan adikmu Desy yang imut ini!” pinta ibunya Desy kepadaku sambil menggoda anaknya sendiri.

“ahh…Ibu.” Rajuk Desy sambil menahan malu

“wah..tak terasa udah jam setengah enam nih, kayaknya saya harus pulang bu…kasihan adik-adik pada nungguin di rumah untuk sholat maghrib berjamaah.” Pintaku kepada keduanya

“tapi kamu kan belum ketemu suamiku Gus?” jawab Desy mencoba menahanku

“yah, ntar kapan-kapan saja aku maen ke sini lagi. Kan masih seminggu lagi aku baru balik ke tempat kerja.” Jawabku sambil tertawa kecil

“ya udah kalau gitu, ati-ati di jalan, jangan lupa sampaikan salamku untuk ibumu ya Yo.” Timpal ibunya desy

“InsyaAllah bu. aku pamit dulu ya!! Assalamu’alaikum.” Salamku sebagai tanda pamitku kepada mereka.

“Wa’alaikumsalam.” Jawab mereka berdua secara bersamaan

Kunyalakan motorku, dan dengan santai kukendarai menyusuri jalanan menuju rumah tempat aku dibesarkan. Dalam balutan sinar mentari senja hatiku berbisik pelan “sungguh…Allah Maha Berkuasa dan Maha Berkehendak atas segalanya. Rencana-Nya sungguh tak dapat diduga dan dikira oleh makhluk-Nya. Hanya Dia yang bisa menetapkan segalanya. Sementara manusia hanya bisa berusaha dan berdo’a kepada-Nya. Allahuakbar, Maha Besar Allah atas Kuasa-Nya.” Begitu kalimat takbir mengakhiri  ketakjubkanku kepada-Nya.

 

Kupang, 11 Robi’ul Akhir 1432H

Advertisements

3 Responses to Kehendak-Nya

  1. suntea says:

    saya suka jalan ceritanya. tapi sebagai seorang kritikus sastra *ceilah, narsis bener haha* lebih bagus lagi jika diksi juga diperhatikan 🙂

    oke mas? terus berkarya hehe

    *ini cuma bisa ngkritik, nyatanya aku juga blm mahir bt cerita*

  2. meyi says:

    patah hateeeyyy… Hehheh
    Just can say.. SABAAARRRRR ^_^

  3. gubukekangto says:

    Suntea : sip ditampung sarannya, seperti ini nih yang ane butuh kan, keep trying
    Mey : dah biasa mey….wekekekekeke

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: