Tuhan damaikan aku

Dengan wajah merah padam Anna masuk ke dalam rumahnya. Pintu rumah dibanting sedemikian kencangnya, kaca-kaca yang menghias di sekitarnya  serasa mau terlepas dari tempatnya. Dengan langkah cepat dia beranjak dari pintu rumah menuju dapur.

Begitu sampai didapur….

“pranggg…, gompryangg…..” suara piring dan gelas yang pecah karena terjatuh dari tempatnya. Serpihannya beserakan ke mana-mana.

“aku lelah dengan semua ini!!” teriaknya dengan emosi yang mulai meluap, keringat mengucur deras dan tangan yang masih terkepal setelah menjatuhkan rak piring dan gelas.

“kenapa ini terjadi padaku???”

“apa salahku???”

“apalagi yang harus kulakukan tuk meluluhkan hati-Mu?”

“segala usaha telah aku coba, namun apa yang Engkau berikan?”

“tak cukupkah apa yang selama ini aku lakukan?”

“tak berartikah susah payah yang telah aku lalui?”

“tak adakah sedikit rasa kasihan-Mu padaku?”

“tak taukah Engkau apa yang aku rasakan?” lirihnya dengan emosi yang masih meluap dan sesekali terdengar isak tangis

“siang malam aku coba bersimpuh pada-Mu, namun apa jawab-Mu?”

“tak ada, tak ada tanda-tanda Engkau akan menolongku!”

“hari demi hari kulalui, hampir tak ada perubahan yang pasti”

“tak adakah embun pagi-Mu yang dapat menyejukkan hatiku?”

“kenapa Engkau persulit diriku untuk meyempurnakan separuh agamaku?”

“bukankah Engkau sendiri yang menyuruh meneladani Rasul-Mu?”

“tapi mengapa kini Engkau persulit diriku untuk melakukan hal itu?”
”dikala aku merasa siap, kenapa tak segera Engkau hadirkan imam dalam hidupku?”“Tuhan…., aku lelah dengan penantian ini?” keluhnya dengan emosi yang sudah mulai mereda,dengan tubuh yang mulai lemas dan airmata yang mengalir deras

“berapa tahun lagi aku harus menanti?”

“kini umurku sudah tak muda lagiii….”

“aku tak tahan lagi……..”

“Tuhan…..,tolong aku…..?”

 

Anna yang berparas cantik, dengan jilbab yang tak lagi rapi terlihat terduduk lemas dan menangis di sudut dapur. Dia lelah setelah puas mengobrak-ngabrik dapur sembari mengeluarkan semua beban pikiran yang ada. Pikiran yang selalu menusuk relung hati. Hati yang pernah tersakiti karena laki-laki. Hati yang luka sampai beberapa kali. Hati yang berkali-kali gagal menyatu dengan kekasih hati pujaan dalam ikatan suci pernikahan. Hati yang sudah tak sanggup lagi menahan semua emosi. Terlebih teman-temannya sering menggodanya dengan menanyakan rencananya menyempurnakan separuh agama.

 

“Na, kapan kamu nikah?” Tanya seorang temannya

“Mungkin Mei”. Jawabnya datar (walau sebenarnya dalam hati dia menangis , karena sampai saat belum ada laki-laki yang mendekatinya lagi, semenjak ditinggal nikah kekasihnya yang dulu.)

“Wah selamat ya?” semoga acaranya lancar

“Orang mana nih calonnya? Boleh dong, kita-kita dikenalin?” tanya teman yang satunya

“Ntar aja sekalian, waktu resepsian”. Kembali jawabnya berusaha tegar.

“Ok deh, kita tunggu ya undangannya?” kata seorang temannya sambil berlalu dari hadapannya bersama teman-teman yang lain.

 

Di dalam dapur masih tampak pecahan piring dan gelas berserakan mengelilingi dirinya yang sedang terduduk lesu. Rintihan tangisnya sangat menyanyat hati menyelimuti seluruh ruangan, membuat iba orang yang mendengarnya.

 

Anna masih terduduk lemas dengan suara tangis yang belum berhenti. Hampir 2 jam ia menangis meratapi nasib, hingga tak ada lagi airmata mengalir di pipi. Hanya menyisakan guratan aliran air mata yang membekas. Tak berapa lama suara tangis itupun mulai terdengar lirih, hingga akhirnya sunyi menghiasi.

 

Dalam kesunyian masih terdengar sesekali suara sesenggukan dari mulut mungil Anna. Suara yang menandakan kelelahan yang sangat mendalam. Dalam kelelahan Anna terlelap. Tak terasa matanya terpejam, fikiran jauh melayang tak tau arah dan tujuan. Semua terasa gelap, sunyi dan sepi. Ada rasa damai yang dia rasakan. Rasa yang selama ini jauh dari kehidupannya.

 

“Allahuakbar….Allahuakbar…..” suara adzan mulai berkumandang, membahana menghiasai cakrawala dunia.

“Allahuakbar….Allahuakbar…..”

“Asyhaduallailahailallah……” suara itu masuk ke dalam gendang telinganya

“Asyhaduallailahailallah……” kembali suara itu membangunkannya dari alam bawh sadarnya

…..

…..

“Laailahailallah……”

 

“Astaghfirulallah…” teriaknya kaget melihat sekitar yang berantakan. Dia mencoba berpikir apa yang telah terjadi. Dia putar-putar memori dalam otaknya untuk mengingat-ngingat kembali apa yang terjadi.

“Astaghfirulallah…” ucapnya lagi, setelah sadar apa yang telah terjadi.

“sedemikian parahkah diriku?” tanyanya kepada diri sendiri? Seakan tak percaya apa yang telah diperbuatnya. Tak lama dari berpikir panjang tentang apa yang terjadi, suara iqomah memecah kebingungannya.

“Allahuakbar, Allahuakbar”

“Asyhaduallailahailallah”

…..

…..

…..

“Laailahailallah”.

Begitu iqomah selesai, bergegas dia ke kamar mandi mengambil wudhu. Dinginnya air wudhu yang membasuh sebagian wajahnya, memberikan kedamaian tersendiri. Membuatnya enggan untuk mengakhirinya. Selesai wudhu segera dia pakai mukena untuk menunaikan sholat dhuhur secara munfarit di kamarnya.

“Allahuakbar”, sambil diangkatnya kedua tangan untuk melakukan takbirotul ikhrom

Bacaan do’a iftitah dilanjutkan dengan surat Al-Fatihah dan surat-surat pendek, mengalun merdu dari mulut mungilnya. Tak terasa airmatanya mengalir lagi saat mengalunkan ayatullah. Ada rasa getir, rasa sesal yang tiba-tiba menyusup dalam relung hatinya.

“Assalamu’alaikum warohamtullahi wabarokatuh” ucapnya mengakhiri serangkaian ibadah sholatnya.

 

Sejenak dia melafadzkan dzikir untuk memuji Allah, Allah yang Maha Suci, Segala puji hanya untuk-Nya, Allah yang Maha Besar, kebesaran-Nya meliputi langit dan bumi serta apa yang ada di antaranya. Tiada Tuhan selain Allah dan benar Muhammad adalah Rosulullah.

 

Selesai mengagungkan nama-Nya, Anna mengangakat kedua tangan, seraya memohon kepada-Nya.

“Ya Allah ya Robb, Ampunilah aku atas segala dosa yang telah aku perbuat. Baik dosa yang telah lampau ataupun dosa yang akan dating”.

“Ya Allah ya Robb, bimbinglah, agar aku selalu berada dalama jalan-Mu, jalan orang-orang yang Engkau rahmati dan bukan jalan-jalan orang sesat dan Engkau murkai”.

“Ya Allah ya Robb, berilah aku kekuatan untuk menghadapi kehidupan ini, jagalah aku agar selalu bersandar pada-Mu”.

“Ya Allah ya Robb, Engkau Maha Tahu, tahu apa yang ada dalam hatiku, Engkau juga tahu kalau selama ini mengharapkan pendamping hidup. Pendamping yang bisa menjadi imam dalam setiap sholatku, sekaligus imam dalam menjalani kehidupan ini”.

“Ya Allah ya Robb, Maafkan aku, jika ketidaksabaran tadi membuat-Mu murka padaku, sungguh aku hanya manusia biasa, yang penuh salah dan dosa, hanya Engkau yang Maha Benar dan tak pernah salah”.

“Ya Allah ya Robb, jika penantian panjangku ini akan berbuah nikmat-Mu di akhirat nanti, janganlah Engkau cabut nikmat-Mu itu, biarlah aku sabar menunggu sampai waktu yang Engkau janjikan”.

“Ya Allah ya Robb, hanya berdo’a dan memohon kepada-Mu saja yang kini bisa aku kerjakan, setelah segala usaha aku lakukan. Kini ku hanya bisa mencoba pasrah akan kehendak-Mu, smoga aja kepsrahan ini memang seperti apa yang Engkau gariskan, bukan hanya bisikan setan yang selalu menjerumuskan”.

“Ya Allah ya Robb, semua berawal dari-Mu dan akan berkahir pula kepada-Mu. Dengan penuh kepasrahan dan kerendahan hati serta kehinaan diri, aku mohon berilah yang terbaik buatku. Karena ku Engkau selalu berkehendak baik kepada setiap makhluk-Mu. Amiin ya Robbal a’alaimin”. Ucapan itu mengakhiri segala do’a dan keluhkesahnya, kepada Sang Penguasa hati. Kini hatinya terasa damai kembali setelah tadi sempat hampir meledak karena tersulut emosi.

 

Kupang, 28 Rabi’ul Awal 1432H

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: