Karena-Nya kuingin bersamamu selamanya

Petang itu langit begitu gelap, mendung menyelimuti seluruh angkasa, suara guntur berkali-kali menggetarkan telinga dan sesekali kilat menjilat-jilat angkasa, menambah kedramatisan suasana. Rumah di tepi sungai kelihatan begitu rapuh, hanya ditopang dengan empat buah batang bambu yang berdiri disetiap sudutnya. Rumah yang hanya berukuran 4×6 meter dengan sekat yang memisahkan ruangan satu dengan ruangan yang lain. Ditambah dengan dinding yang terbuat dari anyaman bambu, membuatnya semakin terlihat rapuh.

Gemericik air mengalir mengalun pelan membentuk nada harmonis yang menenangkan jiwa. Tenang, damai dan nyaman tercipta tatkala mendengarkan alunan nada dari gemericik air sungai dibelakang rumah. Suara katak yang saling bersahutan menambah merdu suasana yang ada. Tak ketinggalan cenggeret, binatang yang berwarna hijau yang sering hinggap di pepohonan, juga mulai menunjukkan keberadaannya dengan suara khasnya.

Di dapur tampak seorang wanita tua, sedang sibuk meniup-niup api dalam tungku. Sementara disamping rumah, seorang laki-laki tua namun masih terlihat kekar, sibuk memotong ranting kayu yang baru saja dia ambil dari hutan. Hutan diseberang persawahan depan rumah. Tampak langit semakin petang, menandakan malam akan segera menjelang. Lelaki tua itu pun segera menyelesaikan perkerjaannya dan menata kayu tersebut di teras depan rumah. Lelaki tua itu bergegas masuk rumah sambil memanggil-manggil istrinya.

“Nekkk…” teriaknya dengan suara parau

“Nenek, di dapur kek, lagi masak air”, sahut suara dari ruangan sebelah. “Sebentar lagi maghrib, cepetan ambil wudhu”. Perintahnya

“Iya kek, sebentar” Sambil berlalu, lelaki tua itu pun ke sungai untuk mandi sekaligus mengambil wudhu. Tak berapa lama setelah selesai mandi dan wudhu, istrinya datang menyusulnya.

“Tungguin nenek ya kek?”

“Iya, nanti kita sholat maghrib jamaah”. Wanita tua itupun segera mengambil wudhu, sambil merasakan dinginnya air sungai membasahi wajahnya, terbesit do’a dalam hati “ya Allah ya Robb, kubasuh wajahku sebelum menghadap-Mu, semoga kelak aku bisa berhadapan langsung dengan-Mu di yaumil akhir”. Tak hanya saat membasuh wajah saja dia berdo’a, namun dalam setiap gerakan wudhu dia selalu berdo’a mengharap kebaikan dari-Nya.

“Allahu Akbar” terdengar suara takbiratul ihram dari lelaki tua itu

“Allahu Akbar” lirih suara istrinya ikut takbiratul ihram. Suara merdu bacaan Al-Fatihah yang dilanjutkan dengan surat pendek mengalun dari mulut lelaki tua itu. Ke-Khusyuk-an menghampiri sepasang suami istri yang sedang bercengkrama dengan Tuhannya. Tanpa terasa, butiran kristal menetes dari mata sayu lelaki tua itu.

“Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh” lirih suara lelaki tua itu mengakhiri sholatnya dan diikuti oleh istrinya. Sejenak mereka larut dalam dzikir bersama, mengagungkan nama tuhannya. Sambil sesekali memutarkan tasbih yang melingkar di telepak tangan mereka. Selesai dzikir, dengan mesranya sang istri mengambil dan mengecup tangan suaminya sebagai tanda bakti kepada sang suami. Kecupan itupun dibalas oleh sang suami dengan mengecup kening istrinya yang terlihat putih bersih sebagai bentuk rasa sayang, seraya berdo’a dalam hati agar kelak mereka berdua bisa bersatu lagi dalam kemesraan hidup setelah mati.

“Kek, boleh ga nenek bertanya?”, lirih suara dari istrinya

“boleh….ada apa nek?”, jawabnya

“Kek, kita kan sudah ga muda lagi, kebanyakan anak kita juga sudah mapan, kenapa sih kakek lebih memilih hidup menyendiri dengan nenek di sini?” Tanya istrinya ingin tahu.

“O… itu…, gini loh nek!!” sahut sang suami sambil tersenyum menggoda.. “ memang benar kita sudah tidak tua lagi, namun kita masih bisa dan sanggup menjemput rejeki kita sendiri. Kita juga masih bisa mengurus kebutuhan kita sendiri!!. Kalau kita ikut salah satu anak kita, kakek takut akan menganggu urusan mereka, dan juga mereka belum tentu nyaman dengan keberadaan kita bukan?” jelasnya kepada istri

“Mungkin apa yang kakek bilang ada benarnya, tapi apa tidak lebih baik kalau kita coba dulu?? Apa kakek juga ga pingin melihat cucu-cucu kita mulai tumbuh menjadi dewasa. Nenek rasa itu akan lebih membahagiakan hati kita?” pintanya kepada suami.

“Memang benar apa yang nenek katakan, tapi sebenarnya kakek punya keinginan, selama kakek masih diberi kesempatan di dunia ini, kakek ingin merasakan kemesraan bersama nenek, sampai ajal memisahkan kita, seperti kemesraan yang dulu pernah kita rasakan saat pertama kali pacaran setelah menikah. Kakek takut kelak di kehidupan setelah mati tidak bisa lagi merasakan kemesraan seperti ini. Namun kalau nenek tidak sependapat dengan kakek untuk menyendiri di sini, besok kita coba tanyakan kepada anak-anak kita”. Jawab suaminya

“Sebagai seorang istri sudah selayaknya nenek harus mendukung apa yang menjadi keinginan suami, bukankah istri yang sholeh itu taat kepada suami?” jawab istrinya

“Alhamdulillah, semoga Allah memberkahi langkah kita dalam mengarungi sisa umur kita, dan semoga Allah juga memberikan hidayah-Nya kepada keturunan kita”.

“Amiin ya Robb”. Jawab mereka hampir bersamaan.

Matahari sudah benar-benar menghilang dari pandangan mata. Kegelapan malam mulai menyelinap, dan awan hitam yang sedari tadi menutup angkasa mulai pudar, diganti dengan taburan bintang yang memperindah suasana malam, disemarakkan dengan semburat cahaya dari sang bulan. Dalam keheningan malam, mereka kembali bersimpuh menghadap Sang Pencipta, mereka berdua larut dalam alunan cinta, cinta kepada pemilik segala CINTA, hingga benar-benar membuat mereka terlepas dari hiruk pikuk kehidupan dunia yang penuh dengan tipudaya.

 

Kupang, 26 Robi’ul Awal 1432H

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: