Refleksi Maulid Nabi 1432H

Tanggal 14 Pebruari 2011 yang jatuh pada hari selasa lalu bertepatan dengan tanggal 12 Robi’ul Awal, yang merupakan hari lahirnya Nabi Muhammad SAW. Dimana pada hari itu dikenal dengan sebutan maulid nabi. Maulid nabi yang bertujuan untuk memperingati hari lahirnya Nabi Muhammad SAW. Nabi yang membawa Rahmat sekalian alam nabi terakhir penutup para nabi. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran surat Al-Ahzab ayat 40

” Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu[1223]., tetapi Dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (QS. 33:40)”

[1223] Maksudnya: Nabi Muhammad s.a.w. bukanlah ayah dari salah seorang sahabat, karena itu janda Zaid dapat dikawini oleh Rasulullah s.a.w. Selain itu, Nabi Muhammad SAW juga membawa risalah islam yang merupakan agama sempurna bagi umat manusia. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran dalam surat Al- Maidah ayat 3 :

“……pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa[398] karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. 5:3)”

[398] Maksudnya: dibolehkan memakan makanan yang diharamkan oleh ayat ini jika terpaksa.

Diharapkan dengan peringatan maulid nabi ini, kita sebagai umat islam bisa meneladani akhlak mulia yang ada pada nabi kita Rosulullah SAW. Kadang kita menyepelekan tentang makna peringatan maulid nabi seperti ini. Namun kalau kita mau mengerti dan mengambil hikmah dari peringatan Maulid nabi ini, ternyata banyak hikmah yang terkandung di dalamnya. Coba kita tengok kembali, bagaimana proses dari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Sejak dalam kandungan beliau sudah ditinggal pergi oleh ayahnya Abdullah menghadap Sang Kholiq, yang menjadikannya seorang yatim. Kira-kira beliau umur 6 tahun, ibunya yang bernama Aminah meninggal dunia yang membuatnya menjadi yatim piatu.

Dari kelahiran sampai beliau memasuki masa kanak-kanak sudah diberikan ujian yang sangat berat menurut ukuran kita manusia biasa yang hidup diera yang sangat susah ini. Dari sini pula kita sudah diajarkan oleh Beliau betapa kita harus selalu sabar menghadapi cobaan yang silih berganti mewarnai roda kehidupan kita ini. Sejak kecil juga beliau sudah belajar hidup susah, beliau harus membantu menggembala kambing pamannya. Betapa Allah tidak membedakan Makhluk yang sangat Dia kasihi dengan manusia biasa seperti kita ini. Betapa Allah juga ingin memberikan teladan kepada kita melalui Nabi-Nya yang sangat Dia Sayangi bagaimana caranya kita menjalani kehidupan ini.

Ada teladan Rosullah yang sangat menarik jika kita ambil hikmah. Dimana dalam suatu riwayat diceritakan bahwa suatu pagi Rasulullah sibuk memperhatikan bajunya dengan cermat. baju satu-satunya dan itupun ternyata sudah usang. baju yang setia menutup aurat beliau, meringankan tubuh beliau dari terik matahari dan dinginnya udara.

Tetapi beliau tak mempunyai uang sepeser pun. Dengan apa beliau harus membeli baju? Padahal baju yang ada sudah waktunya diganti. Rasulullah sebenarnya dapat saja menjadi kaya mendadak, bahkan terkaya di dunia ini. Tapi sayang, beliau tak mau mempergunakan kemudahan itu. Jika beliau mau, Allah dalam sekejap bisa mengubah gunung dan pasir menjadi butir-butir emas yang berharga. Beliau tak sudi berbuat demikian karena kasihnya kepada para fakir yang papa. Lagi pula Siapa kalau bukan Beliau yang menjadi teladan bagi kita umat manusia yang hidup di jamannya ini?.

Begitu sangat setianya Beliau mendampingi umatnya menjalani kehidupan di dunia ini dengan memberikan contoh tauladan, bagaimana caranya menahan derita, lapar dan juga dahaga, menahan segala cobaan dan ujian yang telah diberikan Allah sang pemilik alam semesta ini. Bagiamana Beliau juga mencontohkan umatnya agar selalu bersyukur akan nikmat yang telah dikaruianakan Allah SWT, walau nikmat itu berupa jurang kedukaan dan kemiskinan, sebagaimana halnya saat Beliau masih kecil sudah ditinggal oleh kedua orang tuanya dan susah panyah menggembala kambing agar bisa mengisi perut agar tidak kelaparan.

Hingga suatu waktu Allah memberinya uang sebanyak 8 dirham. Berbekal uang tersebut, bergegaslah Beliau melangkahkan kaki ke pasar. Kita juga tau seberapa banyak uang 8 dirham itu? Apakah cukup untuk beli makanan, minuman dan pakaian yang layak? Tentu saja jawabannya tidak. Namun dengan hati yang ikhlas Beliau selalu mensyukuri nikmat yang telah diterimanya. Tak sedikitpun terlintas penyesalan karena kemiskinannya apalagi niatan untuk mengakhiri hidup hanya kurangnya nikmat dunia yang diterimanya. Dialah manusia paling sabar yang tidak pernah kufur terhadap nikmat dan selalu berprasangka baik terhadap Tuahnnya.

Di tengah perjalanan menuju pasar, Beliau bertemu dengan seorang wanita yang menangis. Ternyata wanita itu kehilangan uang. Segera beliau memberikan uangnya sebanyak dua dirham. Dan Beliau berhenti sejenak untuk menenangkan wanita itu. Setelah tenang barulah Rasulullah bergegas lagi menuju ke pasar yang semakin ramai. Sepanjang lorong pasar banyak sekali masyarakat yang menegur Beliau dengan hormat. Beliau juga selalu menjawab dan memberikan salam yang mengingatkan akan kebesaran Allah SWT. Beliau langsung menuju tempat di mana ada barang yang diperlukannya. Dibelinya sepasang baju dengan harga empat dirham, lalu beliau segera pulang.

Di perjalanan pulang Beliau bertemu dengan seorang tua yang telanjang. Orang tersebut dengan iba memohon sepotong baju untuk dipakainya. Rasulullah yang memang pengasih itu tidak tahan melihat hal itu. Langsung diberikannya baju yang baru dibelinya tadi. Beliau kembali ke pasar untuk membeli baju lagi seharga dua dirham. Tentu saja lebih kasar dan jelek kualitasnya daripada yang empat dirham. Dan dengan gembira beliau pulang membawa bajunya.

Tak lama Beliau melangkah ke luar dari pasar, ditemuinya lagi wanita yang kehilangan uang tadi. Tampak wanita tersebut sangat kebingungan dan gelisah. Rasulullah SAW mendekat dan bertanya mengapa. Wanita itu ternyata ketakutan untuk pulang. Dia telah terlambat dari batas waktu, dan takut dimarahi majikannya jika pulang nanti. Rasulullah SAW langsung menyatakan akan mengantarkannya. Wanita itupun berjalan dan diikuti oleh Rosulullah dari belakang.

Akhirnya mereka sampai di rumah majikan itu di perkampungan kaum Anshari. Rasulullah mengetuk pintu dan mengucapkan salam “Assalamu’alaikum warahmatullah”, sapa Rasulullah SAW keras. Mereka semuanya diam tak menjawab. Padahal mereka mendengar. Ketika tak terdengar jawaban, Rasulullah SAW memberi salam lagi. Tetap tak terdengar jawaban. Rasulullah SAW mengulang untuk yang ketiga kali dengan suara lantang, Assalamu’alaikum warahmatullah. Serentak mereka menjawab.

Rasulullah sangat heran dengan semua itu. Beliau menanyakan pada mereka apa sebabnya. Mereka mengatakan, ” Tidak ya Rasulullah. Kami sudah mendengar sejak tadi. Kami memang sengaja, kami ingin mendapatkan salam lebih banyak”. Rasulullah melanjutkan, “Pembantumu ini terlambat pulang dan tidak berani pulang sendirian. Sekiranya dia harus menerima hukuman, akulah yang akan menerimanya”. Ucapan ini sangat mengejutkan mereka. Kasih sayang Nabi begitu murni, budi pekerti yang utama, yang indah tampak dihadapan mereka. Beliau menempuh perjalanan begitu panjang dan jauh hanya untuk mengantarkan seorang budak yang takut dimarahi majikannya. Lagipula hanya karena terlambat pulang. Bahkan memohonkan maaf baginya pula. Sehingga karena harunya, mereka berkata, “Kami memaafkan dan bahkan membebaskannya. Kedatangannya kemari bersama anda karena untuk mengharap ridha Allah semata”. Budak itu tak terhingga rasa terima kasihnya. Bersyukur atas karunia Allah SWT yang membebaskannya melalui perantara Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW pulang dengan hati gembira. Telah bebas satu perbudakan dengan mengharap ridha Allah SWT sepenuhnya. Beliau juga tak lupa mendoakan para wanita itu agar mendapatkan berkah dari Allah SWT. Semoga semua tetap dalam keadaan iman dan islam. Beliau sibuk memikirkan peristiwa sehari tadi. Hari yang penuh berkah dan karunia Allah SWT semata. Akhirnya beliau berujar, “Belum pernah kutemui berkah 8 dirham sebagaimana hari ini. Delapan dirham yang mampu mengamankan seseorang dari ketakutan, dua orang yang membutuhkan serta memerdekakan seorang budak”. Bagi seseorang muslim yang memberikan pakaian pada saudara sesama muslim, Allah akan memelihara selama pakaian itu masih melekat

Hikmah yang dapat kita ambil dari riwayat di atas adalah betapa Rasulullah SAW, telah mengajarkan kepada kita agar tidak berputus asa terhadap nikmat Allah SWT. Kita juga diajarkan oleh Rasulullah SAW agar selalu berbagi kepada sesama yang memang membutuhkan uluran tangan kita. Satu lagi yang harus kita imani dan yakini bahwa Allah telah mengatur apa yang akan terjadi kepada kita selama kita menyakini-Nya dan berada di jalan yang benar dalam menjalani kehidupan ini. Semoga dengan kisah ini bisa menginspirasi kita untuk lebih semangat lagi dalam menjalani hidup ini, walau himpitan ekonomi dan kesusahan selalu membanyangi kita. Dan membuat kita semakin percaya akan kuasa-Nya, agar kita senantiasa menjadi hamba yang selalu mensyukuri segala nikmat-Nya.

 

Kupang , 14 Robi’ul Awal 1432H

(disadur dari berbagai sumber)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: