Sejuta rasa di Idul Adha

Sholat Id baru saja selesai dilaksanakan, khotbah Idpun mulai menggema  menyentuh jiwa. Mentari pagi mulai merangkak naik, menghangatkan sekujur tubuh yang sedang menunduk lesu. Suara khotib begitu mendayu, menusuk kerelung hati yang paling dalam. Menggugah rasa yang sudah lama tidur, lelap, hingga tak pernah merasakan indahnya dunia. Tak terasa butiran kristal jatuh di atas sajadah tempatku bersimpuh, menghadap kehadirat Illahi Robbi. Rasa yang baru saja aku rasakan, seolah telah menguasi seluruh jiwa, hingga keadaan sekitara terasa sunyi senyap tanpa suara. Hanya ada hembusan angin yang membuatku semakin larut dalam sedihku.

Sedih, sedih yang tak biasa aku rasakan. Sedih yang tak seorangpun tahu penyebabnya, kecuali aku dan Dia. “Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar, Walillahilham”,. Suara takbir kembali terdengar, membuatku semakin susah membendung rasa ini. Malu, jijik, merasa diri paling hina, itu yang sekarang aku rasakan. Menahan tangis dan sedih,  itu yang bisa aku lakukan. Tak ada kata-kata yang terucap dari bibir ini, ketika tangis itu membuncah. Hanya pengharapan ampun dari-Nya, selalu menyertai setiap hembusan nafasku.Hari beranjak siang, khotbah Idpun telah sampai dipenghujung waktu, suara salam dari khotib telah menutup rangkaian kata penggugah iman. Satu persatu, jamaah sholat Idpun mulai beranjak dari duduknya. Ada yang langsung berjabatan tangan, tak sedikit pula yang langsung meninggalkan tempat sholat. Tak heran memang, soalnya hari ini bukan hari libur nasional, jadi mereka bergegas pulang untuk selanjutnya mempersiapkan diri berangkat kerja. Aku sendiri masih santai, sambil melihat ke sekeliling, yang riuh dengan orang-orang yang jarang aku kenal.

Lapangan mulai sepi, akupun beranjak dari duduknya. Kurapikan sajadah warna coklat bergambar masjid itu. Kuambil sendal yang terpampang di depan tempat dudukku. Aku mulai berjalan meninggalkan lapangan itu. Baru beberapa langkah aku berjalan, tak sengaja kumenangkap bayangan semu wajah nan ayu. Kucoba mengenalinya, sejenak hati ini tersentak, tak percaya melihat realita yang ada. Ada rasa senang, gembira karena hari ini aku melihat hadirnya. Kuteruskan langkahku, hingga aku benar-benar berada di hadapannya. Kulihat lagi senyum itu, senyum indah dipadu dengan wajah yang bersih, bersinar bagai mentari pagi hari ini.

Kucoba keluarkan sepatah kata, namun…mulut ini serasa terkunci, diam, rapat tak berbunyi. ntah apa yang terjadi, akupun tak tahu. Lidah ini terasa kelu, tak bisa bergerak walau hanya untuk mengucap salam. Kucoba lagi gerakkan lidahku, hanya untuk merangkai sebuah salam, namun lagi-lagi hanya hening dan sepi yang bergelayut dalam bibir ini. Dalam kekeluan bibir ini, hatiku berharap ada suara dari seberang sana. Namun….harapanku tak berbuah realita, diapun hanya diam, tanpa sedikitpun menoleh bahkan melirikku. Hatipun bertanya, “benarkah itu dia?, Dia yang kemarin baru saja smsan denganku?”.

kupang, ba’da sholat idul adha 1431H

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: