Kenapa dengan jilbabmu ukhti?

Sore ini, hari terasa begitu indah, terlihat sepanjang jalan berjajar mobil-mobil hias. Sejenak aku mulai bertanya-tanya ada acara apa ini? Tak lama dalam diam akupun tersadar kalau hari ini tanggal 18 Agustus. Sehari setelah tanggal kemerdekaan Negara Kita Indonesia. Seperti biasa untuk memperingati setiap HUT RI, Pemerintah Propinsi sini selalu mengadakan pawai mobil hias. Bahkan sehari sebelumnya juga telah digelar acara drumband yang sempat memacetkan jalan utama di kota ini. Untung kali ini aku ga terjebak macet. Padahal jalan yang harus aku lalui, sebenarnya jalan utama yang kemarin sempat macet oleh pawai drumband. Mungkin hari ini memang jalurnya berbeda dengan pawai hari kemarin. “mungkin juga” gumamku dalam hati.

Motor karisma 125 milik kawan yang aku kendari melaju tanpa hambatan. Dengan kecepatan standar 40km/jam pun selalu terpampang pada spidometer. Sinar mentari sore yang masih agak terang menyilaukan pandangan mata. Hanya berbekal helm standar bawaan dari dealer, mataku mencoba menerobos silaunya sinar mentari yang menembus kaca helmku. Dengan penuh kosentrasi kucoba menembus kepadatan jalan menjelang waktu berbuka. Di kanan dan kiri jalan tampak para muda-mudi. mereka bergerombol sesuai dengan kelompok masing-masing, lengkap dengan kendaraan yang berjajar rapi menghias hampir sepanjang jalan yang aku lalui.

Selain diramaikan para muda-mudi yang sedang ngabuburit, pinggiran jalan itupun diramaikan oleh pedagang dadakan yang ada ketika ramadhan saja. Beragam makanan dan minuman menghias meja para pedagang itu. Merah, kuning dan hijau adalah warna khas yang menghias wadah toples mereka. “Subhanallah” gumamku dalam hati, ternyata ramadahan ini membawa berkah, berkah yang bukan hanya dinikmati kaum muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa saja, tapi juga berkah bagi para masyarakat yang ada disekitarnya. Terlihat dari banyaknya masyarakat yang memadati setiap pedagang makanan yang ada.

Tak lama aku berkendara, akhirnya sampai juga aku di tempat tujuan. RM. Murah, iya disitulah tempat diadakannya acara buka bersama sekaligus merayakan miladnya teman yang mengundang. Kuparkirkan motorku,“ jangan dikunci stang ya Ka”, suara tukang parkir yang berada di belakangku.

“iya”, jawabku pelan sambil kulepas helmku.

Saat menaruh helm di jok motor kulihat di sebelah kanan, baru datang juga temenku yang bernama Reva dengan motor metiknya.

Dia tampak buru-buru langsung menuju ke tempat acara, sampai-sampai dia tidak tahu akan keberadaanku. Kuikuti langkahnya berjalan, lumayan cepat juga jalannya, mungkin dia takut terlambat, ga mau mengecewakan teman karibnya.

Beberapa saat sampailah kita di depan ruangan yang terkunci di sebelah kiri dari tempat kami parkir motor tadi. Reva mencoba membuka pintu itu, aku masih menunggu di belakangnya, sampai saat itupun, dia blum menyadari akan keberadaan. Setelah beberapa kali dia mencoba membuka pintu, tetapi belum berhasil juga membuka pintu itu. Dia menoleh kebelakang, sejurus diapun kaget, melihat aku berada di belakangnya.

“acaranya di mana sih va?” tanyaku pelan

“di sini, katanya dia sudah ada sini,” jawabnya tak kalah pelannya.

“kalau rumah makannya sebelah mana sih?” tanyanya padaku

“itu disitu kalau rumah makannya” jawabku sambil menunjuk kea rah rumah makan yang dimakud.

“o…..” jawabnya lirih, tanpa dikomando kamipun berjalan menuju rumah makan itu. Sesampainya di dalam, terlihat yang empunya hajat sudah asyik berbincang dengan undangan yang sudah datang lebih dulu.

“assalamu’alaikum” ucapku dan reva hampir bersamaan.

“wa’alaikumsalam” terdengar jelas balasan dari semua yang ada.

Tanpa disuruh, akupun langsung menempati sebuah kursi yang berada tepat di depan pintu masuk, revapun mengambil kursi yang tepat berhadapan denganku. Kuletakkan sebuah buku bacaan ringan namun sarat hikmah, berada dalam tas plastik putih berlogo Gramedia. Sejenak memang agak mengganggu pandangan dengan adanya tas plastik putih di atas meja. Akupun tanpa basa-basi langsung menyerahkan buku itu kepada yang lagi milad. Yah bisa dibilang sebagai kado miladnya.

Tak lama kemudian satu persatu, undangan yang lain datang. Ada seorang ibu berjilbab, dengan anaknya yang berusia sekitar empat tahunan masuk didampingi dengan suaminya.

“Assalamu’alaikum”, kembali suara salam terdengar di ruangan itu.

“Wa’alaikumsalam:, hampir secara bersamaan undangan yang hadir menjawab salama tersebut.

Tampak ibu itu menjabat tangan, serta mencium pipi kanan dan kiri temen yang sedang milad, sambil mengucapkan beberapa do’a buatnya. Disusul dengan tangan mungil gadis kecil yang menjabat tangan temenku itu, sekarang gantian temenku yang mencium pipi kanan dan kiri gadis kecil itu. Terakhir ayah dari gadis kecil itu yang menjabat tangan temenku sambil mengucapkan beberapa do’a. Dalam hatipun aku bergumam, “seandainya kalau jabat tangan kepada bapak itu tak kau lakukan, kau akan tampak lebih cantik dan anggun dalam balutan jilbab transparanmu itu”.

Memang temanku ini terlihat cantik dan anggun dari yang lain, dengan pakaian panjang warna-warni, dan jilbab dalam yang meriah juga, serta ditutup dengan jilbab transparan menambah dia kelihatan mempesona.”subhanallah”, lagi-lagi kata itupun dengan sendirinya terucap dalam hatiku. Lagi dan lagi Dia menunjukkan kuasa-Nya dihadapanku dengan menghadirkan keindahan lewat pesona yang ada pada temanku ini. Tak lama kemudian datang undangan lain. Seorang akhwat, dengan jilbab putih melingkar ketat di lehernya. Seperti biasa kalau akhwat ketemu akhwat saling mencium pipi, sudah tradisi memang, dan sekarang menjadi pemandangan di hadapanku. “subhanallah”, kembali kata itu hadir dalam hatiku, betapa kuat ikatan persaudaraan diantara mereka.

Selang beberapa saat datang lagi akhwat dengan jilbab putih lebar menutup sebagian wajahnya, dia berjalan santai sambil asyik memainkan hp yang terkalung di lehernya. Sekilas aku memperikarkan bahwa dia ini seorang aktivas dakwah, terlihat dari tas ransel yang melekat setia dipunggungnya, menggabarkan adanya bahan kajian yang selalu dia bawa ketempat-tempat dakwah. Kembali suara salam diruang itu, mengawali setiap pertemuan. Tak lama setelah mondar-mandir sambil memainkan hpnya, dan bercakap dengan temenku yang sedang milad, dia mengambil tempat duduk di sebalahku, dengan spontan akupun menggeser tempat dudukku agak menjauh.

Dalam tenang, temanku yang sedang milad, mencoba membuka pembicaraan dengan mempernalkan gadis yang duduk di sebelahku itu.

“kenalkan, kakak kandungku” katanya padaku

“Emi”, spontan gadis yang berada disampingku itu bicara

Akupun langsung menjawabnya dengan menyebutkan namaku. Setelah itu suasana kembali tenang. Gadis disebelahku masih sibuk dengan HPnya, dan yang lain juga sibuk dengan aktifitas masing-masing. Aku sendiri sibuk dengan pikiranku sendiri, sambil mencari posisi duduk yang nyaman.

Dalam ketenangan, datang satu lagi seoarang akhwat, kali ini gayanya mirip dengan seorang ikhwan, badannya tegap dan jalannya mantap, namun ada jilbab warna abu-abu yang melingkar sangat ketat mambalutnya, sampai terlihat sedikit lehernya. Kali ini bukan kata “subhanallah” yang keluar, melain “astagfirullah”. Dalam hati aku bergumam, ternyata masih banyak para akhwat yang belum mengerti betul makna jilbab yang dia pakai. Ingin rasanya aku langsung melontarkan teguran pada akhwat itu, namun aku urungkan. Akhirnya waktu buka pun tiba, serentak kita membaca do’a berbuka puasa sebelum meyeruput es teh yang ada di depan mata.

Adzan maghribpun selesai, dilanjutkan dengan iqomah, kitapun beranjak dari tempat duduk menuju masjid terdekat untuk menunaikan kawajiban sholat maghrib. Berjalan tak begitu lama kita sampai di masjid raya, walaupun sudah agak lama berada di kota ini, namun baru kali ini aku melakukan sholat di masjid raya ini. Karena baru pertama kalinya memasuki wilayah masjid itu, dan juga tempatnya kurang terang, menjadikan aku begitu kaku dan tak tau letak tempat wudhu. Dengan tenang akupun bertanya pada seorang ikhwan, dimana letak tempat wudhunya.

Selesai sholat maghrib, kita kembali ke rumah makan, terlihat di atas meja sudah tersedia makanan yang tadi dipesan. Tanpa basa basi, setelah membaca do’a makan, kusantap makanan yang ada, untuk mengisi perut yang sudah keroncongan. Tak butuh lama untuk menghabiskan semangkuk nasi soto. Selesai makan, aku hanya bisa diam sambil memperhatikan pembicaraan mereka yang tak kumengerti arahnya, akupun hanya bisa ikutan tersenyum ketika melihat mereka tersenyum, padahal aku ga tau apa yang membuat mereka tersenyum dan tertawa kecil.

Namun dalam diam, aku masih kepikiran akan akhwat yang memakai jilbab warna abu-abu tadi. Akupun semakin penasaran kepadanya. “Sebenarnya dia itu tahu apa tidak akan makna jilbab yang dia pakai itu?” Pertanyaan itu tengiang-ngiang jelas di telingaku namun tak kuasa aku ungkapan. Akupun hanya bisa berkata dalam hati, seharusnya dia sebagai seorang akhwat, lebih memaknai jlbab yang dia pakai, sebagaimana yang terdapat dalam lagu qosidah yang berjudul “jilbab-jilbab putih” yang menjadi lagu kesukaanku.

…………………..

Jilbab, jilbab putih….. lambang kesucian

Lembut hati penuh….. Kasih, teguh pendirian

Jilba, Jilbab putih….. bagaikan cahaya

Yang bersinar ditengah malam gelapa gulita

Dibalik jilbabmu….. ada jiwa yang taqwa

Dibalik senyummu…. tersimpan masa depan cerah…

……………………..

Akhirnya lagu “jilbab-jilbab putih” itu menemaniku dalam berkendara menyusuri jalanan kota yang sudah mulai normal kembali, menuju tempatku berteduh saat ini.

Kupang, 19 Agustus 2010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: